Transportasi dan Polusi Udara: Alarm dari Tangerang Selatan

\nOleh: Dr. Sri Gusty, ST., MT, Dosen Program Magister Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan, Universitas Fajar\n\n\n\nKualitas udara di Tangerang Selatan kembali menuai sorotan. Update IQAir per 26 Mei 20...

Transportasi dan Polusi Udara: Alarm dari Tangerang Selatan
Bacakan Artikel
\n

Dr. Sri Gusty, ST., MT, Dosen Program Magister Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan, Universitas Fajar

\n\n\n\n

Kualitas udara di Tangerang Selatan kembali menuai sorotan. Update IQAir per 26 Mei 2025 tercatat Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai angka 275. Terbaca pada range sangat tidak sehat menurut pengklasifikasian internasional.

\n\n\n\n

Jika dilihat menggunakan kacamata transportasi, kondisi ini merupakan sinyal bahaya yang tidak logis bila diabaikan. Mengapa? Karena transportasi merupakan salah satu penyumbang utama emisi partikel halus (PM2.5), yang menjadi indikator utama dalam pengukuran polusi udara.

\n\n\n\n

Sebagai kota penyangga, Tangerang Selatan sudah pasti menderita mobilitas yang tinggi. Kepemilikan kendaraan pribadi terus meningkat, sementara infrastruktur transportasi publik belum mampu mengimbangi.

\n\n\n\n

Data dari BPS dan Dinas Perhubungan menunjukkan rasio kendaraan per kilometer jalan meningkat setiap tahun. Hasilnya, selain kemacetan, emisi karbon dan partikel beracun dari knalpot kendaraan menjadi faktor dominan pencemaran udara. Masalahnya pada indikasi kegagalan dalam membangun sistem mobilitas yang sehat dan berkelanjutan.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: