Seribu Biopori Sudah Ditanam di Pondok Cabe Ilir, Lurah Prihadiyanto: Gerak Cepat Tekan Sampah Organik

Sebanyak 1.000 lubang biopori telah berhasil ditanam di Kelurahan Pondok Cabe Ilir, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, dari total target 1.130 titik. Program ini menjadi langkah nyata dalam menekan volume sampah organik langsung dari sumber rumah tangga.

Seribu Biopori Sudah Ditanam di Pondok Cabe Ilir, Lurah Prihadiyanto: Gerak Cepat Tekan Sampah Organik
Foto net: Lurah Pondok Cabe Ilir Prihadiyanto.
Bacakan Artikel

HARIANRAKYAT.ID, TANGSEL — Upaya pengendalian sampah berbasis lingkungan di Kelurahan Pondok Cabe Ilir, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menunjukkan hasil signifikan. Sekitar 1.000 lubang biopori telah tertanam dari total target 1.130 titik, atau hampir mencapai 90 persen.


Lurah Pondok Cabe Ilir, Prihadiyanto mengatakan capaian tersebut menjadi langkah konkret dalam menekan volume sampah organik dari sumbernya. Sisa titik yang belum terealisasi kini masih dalam tahap pencarian lokasi di sejumlah lingkungan warga.

“Ke depan kami dorong agar biopori ini benar-benar dimanfaatkan masyarakat. Harapannya, persoalan sampah organik bisa diselesaikan dari sumbernya,” ujar Yanto, ditemui pada Jumat (24/7/2026).


Program ini menjangkau 56 RT di 12 RW dengan jumlah penduduk sekitar 38 ribu jiwa. Setiap RT mendapat alokasi sekitar 20 lubang biopori. Pengerjaan telah dimulai sejak Juni dan ditargetkan rampung dalam waktu kurang lebih 28 hari.


Di lapangan, pelaksanaan program tidak lepas dari sejumlah kendala. Keterbatasan tenaga tukang hingga kondisi tanah yang tidak selalu ideal menjadi tantangan utama. Namun, partisipasi warga menjadi kunci keberhasilan.


“Awalnya kami kesulitan mencari tukang, tapi akhirnya ada yang berkomitmen membantu. Warga juga ikut terlibat, bahkan menyediakan konsumsi. Pengerjaan kadang berlangsung hingga malam karena kondisi tanah berbatu dan faktor cuaca,” jelasnya.


Dalam sehari, pengerjaan mampu mencapai lebih dari 20 titik, baik menggunakan alat mesin maupun dibantu menggunakan alat manual.

Selain aspek teknis, edukasi masyarakat juga menjadi perhatian. Masih ditemukan anggapan bahwa semua jenis sampah dapat dimasukkan ke dalam biopori, padahal lubang ini hanya diperuntukkan bagi sampah organik


“Satu lubang biopori bisa dimanfaatkan oleh tiga sampai empat rumah. Tapi perlu dipahami, hanya untuk sampah organik, bukan semua sampah,” tambah Yanto.


Selain pembangunan biopori, kelurahan juga menekan praktik pembuangan sampah liar. Dari sebelumnya terdapat 11 titik, kini berhasil dikurangi menjadi empat titik.


Upaya lain dilakukan melalui edukasi dan inovasi di lingkungan sekolah dan masyarakat. Siswa didorong membuat ecobrick dari botol plastik berisi sampah non-organik sebagai bagian dari kegiatan prakarya.


“Kalau satu siswa bisa mengumpulkan satu galon ecobrick, itu bisa dimanfaatkan untuk pagar atau fasilitas sekolah. Ini juga melatih kreativitas dan kepedulian lingkungan,” katanya.

Inisiatif warga pun mulai berkembang, seperti pembuatan tikar dari kemasan bekas kopi. Berbagai gerakan ini diharapkan memperkuat budaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat.


Saat ini, SDN 01 Pondok Cabe Ilir ditetapkan sebagai lokus sekolah sehat. Di wilayah Pondok Cabe Ilir terdapat tiga SD negeri, lima SMP swasta dan lima SMA swasta yang diharapkan ikut bersinergi dalam mendukung program lingkungan berkelanjutan.


Pemerintah kelurahan menegaskan, keberhasilan pengelolaan sampah tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat. (din).