Progres Biopori di Kelurahan Setu Tunggu Perbaikan Administrasi, 565 Titik Segera Dikerjakan

Progres pemasangan 565 lubang biopori di Kelurahan Setu, Tangsel, masih menunggu perbaikan administrasi berupa penyesuaian kode rekening pengadaan sesuai hasil review Inspektorat.

Progres Biopori di Kelurahan Setu Tunggu Perbaikan Administrasi, 565 Titik Segera Dikerjakan
Lurah Setu, Kecamatan Setu Kota Tangerang Selatan, Adhi Mustofa
Bacakan Artikel

HARIANRAKYAT.ID, TANGSEL — Progres pemasangan 565 lubang biopori di Kelurahan Setu, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), masih menunggu perbaikan kode rekening pengadaan. Penyesuaian ini dilakukan menyusul arahan dari hasil review Inspektorat.


Lurah Setu, Adhi Mustofa, menjelaskan bahwa perbaikan administrasi diperlukan karena pengadaan mesin dikategorikan sebagai belanja modal, sementara biopori masuk dalam belanja yang diserahkan kepada masyarakat.


“Pelaksanaannya akan dimulai setelah anggaran perubahan tahun 2026. Ini bukan hanya di Kelurahan Setu, tetapi juga seluruh kelurahan di Kecamatan Setu,” ujarnya saat ditemui pada Jumat (24/7/2026).


Program biopori di Kelurahan Setu menargetkan 565 titik berdasarkan usulan warga. Setiap RT telah merekomendasikan lokasi dan kelurahan memberi kewenangan kepada masyarakat untuk menentukan titik pengerjaan di lingkungannya.

"Saat ini, realisasi usulan telah mencapai hampir 70 persen. Proses pengerjaan diperkirakan berlangsung sekitar satu bulan, dengan sebagian dilaksanakan melalui swakelola masyarakat," ujarnya.


Adhi mengakui, anggaran sempat menjadi kendala di awal. Namun setelah dilakukan perhitungan dalam skala besar, program tersebut akhirnya dapat disepakati untuk dilanjutkan. Kendala lain juga muncul dalam aspek pelaporan kegiatan yang membutuhkan kehati-hatian serta analisa dari Inspektorat, termasuk dalam penentuan lokasi biopori, khususnya di kawasan perumahan.


“Di perumahan yang sudah banyak paving block, biopori dibuat di fasilitas sosial, fasilitas umum, dan sisi rumah warga,” jelasnya.


Meski demikian, di luar kawasan perumahan, program ini mendapat dukungan kuat dari masyarakat karena dinilai sangat dibutuhkan.


"Program biopori harus dijalankan secara efektif agar sesuai rencana. Terlebih, kondisi saat ini belum didukung tempat pembuangan sampah yang memadai, sehingga pengelolaan sampah berbasis pemilahan menjadi solusi," tambah ia.


Sebelum program berjalan penuh, masyarakat juga telah berinisiatif membuat sekitar 75 titik biopori secara swadaya, termasuk melalui pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah (Teba) modern. Inisiasi ini telah digarap awal tahun 2026.

“Penguatan bank sampah di tingkat RW juga terus dilakukan. Dengan optimalisasi biopori, kami harapkan volume sampah bisa berkurang hingga 40 persen di wilayah Kelurahan Setu,” pungkasnya. (din).