Makna Ridha dan Istiqamah dalam Risaalatul Mustarsyidiin, KH Sobron Zayyan Ajak Umat Tenang Hadapi Takdir

KH Muhammad Sobron Zayyan menegaskan pentingnya sikap ridha dan istiqamah dalam menjalani kehidupan. Disampaikan dalam Pengajian Rutin MUI Kota Tangerang Selatan di Islamic Center Baiturahmi BSD, Rabu (15/7/2026).

Makna Ridha dan Istiqamah dalam Risaalatul Mustarsyidiin, KH Sobron Zayyan Ajak Umat Tenang Hadapi Takdir
KH Muhammad Sobron Zayyan saat mengisi Pengajian Rutin kitab kuning, MUI Kota Tangerang Selatan di Islamic Center Baiturahmi BSD, Rabu (15/7/2026).
Bacakan Artikel

HARIANRAKYAT.ID, TANGSEL– Wakil Ketua Umum MUI Kota Tangerang Selatan (Tangsel) KH Muhammad Sobron Zayyan membahas kandungan kitab Risaalatul Mustarsyidiin karya Imam Abu ‘Abdillah al-Harits bin Asad al-Muhāsibī dalam Pengajian Rutin MUI Tangsel. Kajian tersebut menekankan pentingnya seorang hamba menerima takdir Allah SWT dengan sikap ridha, hati yang lapang dan tetap istiqamah dalam menjalani kehidupan.

 

Kegiatan yang berlangsung di Islamic Center Baiturahmi BSD, Serpong, Kota Tangsel, Rabu (15/7/2026), membahas pembahasan halaman 6-7 kitab Risālatul Mustarsyidiin mengenai makna menerima ketentuan Allah SWT dengan penuh keyakinan.

 

KH Sobron menjelaskan bahwa salah satu tanda kesempurnaan iman seorang hamba adalah kemampuan menerima ketentuan Allah dengan hati yang tenang. Seorang muslim hendaknya menjalani takdir Allah dengan lapang dada, tanpa menolak ketetapan-Nya, serta meyakini bahwa setiap keputusan Allah memiliki hikmah dan kebaikan.

 

Dalam kajian tersebut, KH Sobron juga menyampaikan penjelasan Imam Al-Ghazali mengenai makna ridha. Menurutnya, ridha merupakan keadaan hati yang tenang dalam menerima ketentuan Allah SWT dan tidak merasa iri terhadap apa yang diberikan kepada orang lain.

 

Ia mencontohkan bahwa seseorang yang memiliki sifat ridha tidak akan gelisah ketika melihat orang lain memperoleh kenikmatan, seperti membeli kendaraan baru atau mendapatkan rezeki lebih besar. Sebab, ia meyakini bahwa setiap manusia telah memiliki bagian rezeki yang diatur Allah SWT.

 

Ridha bukan berarti berhenti berusaha atau pasrah tanpa ikhtiar. Ridha adalah menerima hasil dari usaha yang telah dilakukan dengan hati yang lapang, sambil tetap bekerja, berdoa, dan memperbaiki diri.

 

Menurutnya, sifat ridha dapat menjauhkan seseorang dari penyakit hati seperti iri, dengki, dan keluhan terhadap takdir. Seorang hamba yang ridha akan tetap bersyukur ketika mendapat nikmat dan tidak mudah berputus asa saat menghadapi ujian.

 

Selain membahas tentang ridha terhadap takdir, kitab Risālatul Murāsyidīn juga mengajarkan pentingnya menjaga akhlak kepada sesama, menghindari perkataan yang tidak bermanfaat, serta memilih lingkungan pergaulan dengan orang-orang yang bertakwa dan berilmu.

 

KH Sobron menuturkan bahwa ketenangan hati seorang mukmin tidak bergantung pada banyaknya harta atau kenikmatan dunia, melainkan pada kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT. Ia mengajak umat Islam untuk terus berikhtiar, menerima ketentuan Allah dengan ridha, dan istiqamah dalam ketaatan. (din).