Program Biopori di Serua Indah Mulai Disiapkan, Warga Diminta Ajukan Titik Pemasangan

Kelurahan Serua Indah, Ciputat, Tangsel mulai menyiapkan program biopori untuk mengatasi sampah organik. Sosialisasi telah dilakukan kepada RT/RW dan pendataan titik pemasangan sedang berjalan, mengingat mayoritas lahan merupakan milik pribadi.

Program Biopori di Serua Indah Mulai Disiapkan, Warga Diminta Ajukan Titik Pemasangan
Lurah Serua Indah, Nurshobah
Bacakan Artikel

HARIANRAKYAT.ID, TANGSEL –Kelurahan Serua Indah, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mulai menyiapkan pelaksanaan program biopori. Porgram ini  sebagai upaya mengatasi persoalan sampah organik di lingkungan warga.

Lurah Serua Indah, Nurshobah, mengatakan tahapan awal program telah dilakukan melalui sosialisasi kepada pengurus RT dan RW. Selain itu, formulir pendataan juga sudah disebarkan untuk mengetahui titik pemasangan serta kesiapan warga.

“Form sudah kami sebarkan ke RT dan RW untuk mendata lokasi dan warga yang siap. Karena di wilayah kami tidak ada lahan fasilitas sosial maupun fasilitas umum. Sebagian besar lahan merupakan milik pribadi. Jadi kami menunggu kesiapan dari warga,” ujarnya, Senin (13/7/2026).

Saat ini, baru satu wilayah yang mengajukan pemasangan, yakni RW 4 dengan total sekitar 200 titik biopori. Sementara wilayah lainnya diperkirakan akan menyusul dalam dua hari ke depan.

Nurshobah menegaskan, pihaknya tidak menunda pelaksanaan program, melainkan berhati-hati agar pemasangan tepat sasaran.

“Bukan kami menunda, tapi kami khawatir jika langsung pesan banyak justru bingung mau dipasang di mana. Kami masih menunggu usulan dari RT dan RW,” jelasnya.

Secara keseluruhan, Kelurahan Serua Indah memiliki 10 RW dan 61 RT dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 25 ribu jiwa. Target pemasangan biopori sesuai pagu anggaran mencapai 1.030 titik. Namun, realisasi dilakukan bertahap menyesuaikan kesiapan wilayah.

Program ini diharapkan dapat diterima masyarakat sebagai solusi pengelolaan sampah. Selama ini, biopori lebih dikenal sebagai sarana resapan air, sementara ini untuk mengolah sampah organik.

“Harapan kami warga bisa menerima program ini. Biopori dikenal masyarakat untuk resapan air, tapi ini untuk pembuangan sampah organik. Mudah-mudahan bisa berjalan lancar,” katanya.

Meski demikian, terdapat sejumlah kendala dalam pelaksanaannya, salah satunya terkait biaya tenaga kerja per hari Rp 90 ribu. Hal tersebut telah dimusyawarahkan dan akan dikoordinasikan dengan dinas terkait. Sementara untuk peralatan, saat ini telah tersedia dua unit alat pembuat biopori.

Menurut Nurshobah, penerapan biopori diyakini mampu mengurangi volume sampah organik secara signifikan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah.

Di sisi lain, pihak kelurahan juga pernah menghadapi persoalan penumpukan sampah di dua titik wilayah yang sempat menjadi tempat pembuangan liar. Namun, melalui kerja sama dengan RT dan RW, masalah tersebut berhasil diatasi.

“Kami sempat kewalahan karena ada dua titik yang jadi tempat buang sampah sembarangan. Akhirnya kami lakukan ronda bersama warga. Bahkan saya sendiri turun langsung keliling wilayah membawa kantong plastik untuk memungut sampah di jalan,” ungkapnya.

Upaya tersebut kini membuahkan hasil dengan lingkungan yang lebih tertib. Kelurahan berharap, melalui program biopori, kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah dapat terus meningkat. (din).