Transportasi dan Polusi Udara: Alarm dari Tangerang Selatan

\nOleh: Dr. Sri Gusty, ST., MT, Dosen Program Magister Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan, Universitas Fajar\n\n\n\nKualitas udara di Tangerang Selatan kembali menuai sorotan. Update IQAir per 26 Mei 20...

Transportasi dan Polusi Udara: Alarm dari Tangerang Selatan
Bacakan Artikel
\n\n\n\n

Tangerang Selatan tentu saja hanya miniatur dari sekian banyak potret serupa kota-kota besar lainnya. Jakarta misalnya, tercatat sebagai kota kelima terburuk di dunia dengan indeks kualitas udara 152, setelah Kinshasa, Kongo; Delhi, India; Lahore, Pakistan; Riyadh, Arab Saudi.

\n\n\n\n

Problem akut ini terjadi lantaran masih tingginya angka ketergantungan pada kendaraan berbahan bakar fosil, minim jalur sepeda, tidak ramah pejalan kaki, serta sistem angkutan umum yang belum sepenuhnya terintegrasi. Semua ini berkontribusi pada meningkatnya konsentrasi polutan seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan PM2.5 di sirkulasi udara perkotaan.

\n\n\n\n

Banyak negara yang bisa dijadikan kiblat sistem transportasi, seperti Jepang dan Jerman telah jauh lebih dahulu mengintegrasikan sistem transportasi rendah emisi ke dalam strategi lingkungan mereka.

\n\n\n\n

Tokyo, misalnya, menerapkan kontrol emisi ketat dan mendorong elektrifikasi transportasi publik serta penggunaan sepeda sebagai moda utama di kawasan permukiman. Di Berlin, kebijakan Low Emission Zones sukses menurunkan konsentrasi NOâ‚‚.

\n\n\n\n

Data dari European Environment Agency (2023) menyebutkan bahwa pendekatan transportasi berkelanjutan terbukti langsung menurunkan beban penyakit akibat polusi udara hingga 15% per tahun.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: