Nyaris Sentuh Rp1.000 Triliun, Masyarakat Dorong Pemerintah \'Bersih-Bersih\' Pertamina

\nTokoh masyarakat Yakub F. Ismail memberikan dukungan sepenuhnya kepada pemerintah dalam penegakan hukum terkait kasus korupsi di PT Pertamina.\n\n\n\n\"Pastinya saya sangat mendu...

Nyaris Sentuh Rp1.000 Triliun, Masyarakat Dorong Pemerintah \'Bersih-Bersih\' Pertamina
Bacakan Artikel
\n\n\n\n

\"Impor BBM melalui broker, juga pemberian kompensasi dan pemberian subsidi karena harga minyak tadi menjadi tinggi,\" ungkap Abdul Qohar.

\n\n\n\n

Adapun rincian kerugian ini bersumber dari beberapa aspek terkait tata kelola minyak mentah.

\n\n\n\n

Untuk kerugian ekspor minyak mentah dalam Negeri sekitar Rp 35 triliun, kerugian impor minyak mentah melalui broker sekitar Rp 2,7 triliun, kerugian impor BBM melalui DMUT/Broker sekitar Rp 9 triliun, kerugian pemberian kompensasi (2023) sekitar Rp 126 triliun, dan kerugian pemberian subsidi (2023) sekitar Rp 21 triliun.

\n\n\n\n

Dalam perkembangannya sejumlah pengamat mencoba menguliti persoalan ini dengan mendalami kerugian lebih lanjut dari sumber di atas.

\n\n\n\n

Politikus Partai Demokrat Andi Arief, dalam cuitannya di plaform X, pada Jumat (28/2) mengatakan bahwa kerugian di atas Rp193,7 kemungkinan lebih besar jika asumsinya telah terjadi selama lima tahun.

\n\n\n\n

\"Jadi kalau kita berasumsi kerugian tersebut terjadi selama lima tahun dari 2018-2023 (Fajar.co.id, 27/2/2025) dengan angka konstan kerugian Rp193,7 T, maka dikali lima tahun angkanya nyaris menyentuh Rp1.000,\" ujarnya.

\n\n\n\n

Dengan demikian, asumsi dari mana sumber kerugian negara sebesar Rp1000 triliun akibat kasus korupsi Pertamina ini dapat dimengerti.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: