Kelurahan Rempoa Targetkan 1.000 Titik Biopori, Bank Sampah Terus Diperkuat

Kelurahan Rempoa, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan menargetkan pemasangan 1.000 titik biopori hingga akhir 2026.

Kelurahan Rempoa Targetkan 1.000 Titik Biopori, Bank Sampah Terus Diperkuat
Lurah Rempoa, Ciputat Timur, Kota Tangsel, Hendra Pratama.
Bacakan Artikel

HARIANRAKYAT.ID, TANGSEL-Pemerintah Kelurahan Rempoa, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menargetkan pemasangan 1.000 titik biopori pada 2206. Langkah ini  sebagai tindak lanjut instruksi Wali Kota Tangerang Selatan terkait pelaksanaan program biopori di seluruh kelurahan.

Lurah Rempoa, Hendra Pratama, mengatakan persiapan pelaksanaan program telah dilakukan. Kelurahan telah menyiapkan pipa pralon sepanjang 1 meter berdiameter 6 inci, berikut penutup (dop). Termasuk mesin pembuat lubang tanah sesuai kemampuan anggaran yang tersedia.

"Pelaksanaan di lapangan tidak sepenuhnya mudah. Keterbatasan tenaga kerja serta padatnya permukiman menjadi tantangan dalam menentukan lokasi pemasangan biopori," ujarnya saat di temui di kantornya, Selasa (7/7/2026).

Karena itu, pihaknya meminta setiap Ketua RT dan RW mengusulkan titik pemasangan. Lokasi yang diprioritaskan berada di fasilitas umum, seperti sekolah tingkat SD dan SMP, masjid, serta gereja.

"Biopori ini dibuat untuk membantu mengatasi sampah organik. Pipa sepanjang 1 meter itu ditanam di dalam tanah, tetapi sekitar 20 sentimeter harus tetap berada di permukaan agar sampah organik mudah dimasukkan dan diambil setelah terurai menjadi pupuk," kata Hendra.

Sebanyak 1.000 titik biopori akan dipasang secara bertahap di 11 RW dan 69 RT hingga akhir tahun. Rempoa sendiri merupakan kelurahan dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi ketiga di Kecamatan Ciputat Timur, setelah Pondok Ranji dan paling padat Kelurahan Pisangan. 

"Kami juga terus memperkuat program Bank Sampah sebagai bagian dari upaya mendukung kebijakan pemilahan sampah yang dicanangkan Dinas Lingkungan Hidup," ia menjelaskan.

Salah satu upaya yang dilakukan ialah mengajak warga membawa sampah kering yang masih memiliki nilai jual saat mengikuti Pengajian Al-Hidayah Kelurahan. Botol plastik, kemasan dan sampah sejenis. Lalu dikumpulkan sebagai bagian dari gerakan sedekah sampah.

"Sampah yang terkumpul ditimbang setiap bulan oleh pengurus Bank Sampah Kelurahan. Hasil penjualannya dimanfaatkan sebagai tambahan kas untuk mendukung kegiatan Majelis Taklim," tambah ia.

Hendra mengatakan edukasi mengenai pengelolaan sampah terus disampaikan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan. Mulai dari pengajian hingga rapat RT dan RW.

"Kami terus mengajak warga memasang biopori di rumah masing-masing sebagai dukungan terhadap program pemerintah. Jangan sampai kita mengeluhkan persoalan sampah, tetapi masih membuang sampah sembarangan," ujar Hendra. (Cr01).