Gandeng RT/RW dan Warga, Kelurahan Pondok Ranji Gencarkan Program Biopori

Kelurahan Pondok Ranji, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, menggencarkan program pemasangan 1.100 lubang biopori di 15 RW dan 75 RT dengan melibatkan RT, RW, serta masyarakat.

Gandeng RT/RW dan Warga, Kelurahan Pondok Ranji Gencarkan Program Biopori
Lurah Pondok Ranji, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangsel, H Midih saat menjelaskan soal program biopori.
Bacakan Artikel

HARIANRAKYAT.ID, TANGSEL Pemerintah Kelurahan Pondok Ranji, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mulai mempersiapkan program pemasangan lubang biopori. Tahun ini, sebanyak 1.100 titik biopori ditargetkan terpasang di 15 RW dan 75 RT.

Lurah Pondok Ranji, Midih, S.Ag., mengatakan sosialisasi kepada Ketua RT dan RW dijadwalkan berlangsung Kamis mendatang untuk menentukan titik pemasangan sesuai kondisi dan kebutuhan di masing-masing lingkungan.

"Sarana pendukung, seperti mesin bor tanah, telah disiapkan sesuai anggaran yang tersedia. Meski demikian, pelaksanaan di lapangan diperkirakan tetap menghadapi sejumlah kendala," ujarnya di temui di kantornya, Selasa (7/7/2026).

Menurut Midih, kondisi tanah berbatu maupun lapisan cor kerap menghambat proses pengeboran. Sehingga titik pemasangan harus dipindahkan. Keterbatasan anggaran upah pekerja juga menjadi tantangan karena program ini diprioritaskan melibatkan masyarakat kategori kemiskinan ekstrem.

"Per hari mereka harus menyelesaikan 10 lubang. Bisa dibayangkan tingkat kesulitannya, sementara anggaran yang tersedia sangat terbatas. Itu yang harus kami siasati agar program ini tetap berjalan," ujar Midih.

Target 1.100 titik biopori akan dikerjakan bertahap dengan melibatkan RT, RW dan masyarakat. Sejumlah perumahan di Pondok Ranji telah lebih dulu menjalankan program ini secara mandiri dan diharapkan menjadi contoh bagi lingkungan lain.

"Tentu program ini diharapkan mampu mengurangi timbulan sampah rumah tangga. Berdasarkan perkiraan kelurahan, setiap kepala keluarga menghasilkan sekitar 2 kilogram sampah per hari. Dengan sekitar 10.000 kepala keluarga, volume sampah yang dihasilkan tergolong cukup besar," ia merinci.

Pengelolaan sampah di Pondok Ranji didukung pihak swasta dan dua Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPS3R). TPS3R di Jurang Mangu, RW 03, dinilai mampu mengolah sampah menjadi kompos.

"Sedangkan TPS3R di Kampung Peladen masih terkendala karena lokasinya berdekatan dengan permukiman warga," tambahnya.

Disisi lain, sekitar 150 kader Posyandu juga dilibatkan untuk mengedukasi masyarakat mengenai manfaat biopori. Warga didorong membuat lubang biopori secara mandiri menggunakan ember plastik atau kaleng cat bekas. Hal itu jadi solusi sebagai media pengomposan. 

"Langkah ini diharapkan membantu mencapai target 3.000 titik biopori di seluruh wilayah Pondok Ranji," ia optimis.

Kompos dari lubang biopori diperkirakan dapat dipanen dalam empat hingga enam bulan untuk mendukung kegiatan pertanian perkotaan melalui program RW Mantap.

"Harapan kami, sejalan dengan target pemerintah kota, persoalan sampah di Pondok Ranji bisa ditangani lebih baik melalui keterlibatan masyarakat," tutup  Midih. (Cr01).