HPN 2026, IMO-Indonesia Dorong Media Jadi Arus Diplomasi Global

Oleh: Yakub F. Ismail\n\n\n\nMomentum Hari Pers Nasional (HPN) 2026 kembali hadir di tengah perubahan besar lanskap media baik di Tanah Air maupun global.\n\n\n\nDinamika dan arus informasi bergerak demikian...

HPN 2026, IMO-Indonesia Dorong Media Jadi Arus Diplomasi Global
Bacakan Artikel
\n\n\n\n

Pers berperan cukup strategis dalam mengawasi dinamika kekuasaan, mendorong keterbukaan bagi ruang kritik, sekaligus memastikan proses politik berjalan transparan dan bertanggung jawab.

\n\n\n\n

Pemberitaan yang objektif, tajam, kritis, mendalam dan berimbang dalam mengangkat isu yang dianggap sensitif menjadi kontribusi nyata pers dalam menjaga kualitas demokrasi Indonesia tetap eksis dan kokoh.

\n\n\n\n

Tanpa pers yang kredibel, independen dan profesional, demokrasi berisiko kehilangan mekanisme koreksi dan alat kontrol yang vital.

\n\n\n\n

Percaya tidak percaya, suka atau tidak suka, media memiliki kontribusi besar dalam pembangunan nasional.

\n\n\n\n

Media berperan sebagai jembatan yang mengintegrasikan kepentingan pemerintah dan masyarakat, menyampaikan kebijakan publik, program pembangunan, serta capaian negara secara utuh dan proporsional.

\n\n\n\n

Dalam konteks demikian, pers nasional telah menjalani fungsinya sebagai media center yang membantu pemerintah mendistribusikan informasi yang kredibel, akurat, dan mudah dipahami publik. Peran ini menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap tidak terverifikasi.

\n\n\n\n

Namun, fungsi media center tersebut tidak boleh dimaknai sebagai relasi kalkulatif, dalam arti mendukung pemerintah untuk kepentingan pragmatis.

\n\n\n\n

Akan tetapi, pers senantiasa menjaga independensinya, sehingga relasi yang dibangun bukan dalam konteks menjadi bagian (kehumasan) pemerintah, atau tidak juga sebaliknya menjadi instrumen delegitimasi kekuasaan.

\n\n\n\n

Tugas utama pers hanyalah menyampaikan informasi secara berimbang, serta membuka ruang evaluasi dan kritik konstruktif.

\n\n\n\n

Sinergi antara pers dan pemerintah memang idealnya dibangun di atas prinsip saling menghormati peran masing-masing.

\n\n\n\n

Pemerintah selaku perancang kebijakan, sementara pers sebagai penyampai informasi sekaligus pengawas.

\n\n\n\n

Media sebagai Alat Diplomasi

\n\n\n\n

Di era disrupsi digital ini, media telah menjadi instrumen diplomasi yang sangat efektif. Pemberitaan internasional, narasi digital, dan opini publik global sering kali lebih menentukan citra sebuah negara dibandingkan pernyataan diplomatik formal.

\n\n\n\n

Bagi pemerintah Indonesia, peran pers memiliki potensi besar untuk tampil sebagai alat diplomasi yang mendiseminasikan nilai-nilai kebangsaan, pandang politik luar negeri yang bebas aktif, serta berkontribusi dalam menyuarakan isu-isu global seperti perdamaian, kemanusiaan, dan lingkungan yang keberlanjutan.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: