UIN Jakarta dan MIU Iran Gagas Rekonstruksi Humaniora Islami di Era Modern

HARIANRAKYAT.ID- Dalam upaya memperluas cakrawala intelektual dan menggali kembali khazanah keilmuan Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Studium Generale bertajuk “R...

UIN Jakarta dan MIU Iran Gagas Rekonstruksi Humaniora Islami di Era Modern
Bacakan Artikel

Namun, lanjutnya, pembagian tersebut kini semakin cair seiring munculnya ilmu-ilmu interdisipliner. “Humaniora yang dahulu dianggap teoritis, kini menjadi terapan karena berinteraksi langsung dengan masyarakat,” ujarnya.

Prof. Abbasi menekankan bahwa Humaniora Islam bukanlah konsep kontradiktif, melainkan disiplin ilmu yang berdiri di atas pandangan dunia (worldview) Islam. Ilmu ini tidak sekadar menafsirkan Al-Qur’an sebagai teori, tetapi membangun sistem pengetahuan baru berdasarkan epistemologi dan ontologi Islam.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa gagasan rekonstruksi Humaniora Islam telah bergulir sejak tujuh dekade lalu, salah satunya melalui pemikiran Allamah Taqi Misbah Yazdi di Iran. Upaya serupa juga dilakukan oleh pemikir Muslim seperti Ismail al-Faruqi dan Syed Naquib al-Attas di dunia Islam lainnya.

“Membangun ilmu baru membutuhkan waktu panjang dan kolaborasi lintas disiplin serta antarnegara. Humaniora Islam harus menjadi solusi bagi problem kemanusiaan modern sekaligus jembatan dialog antaragama dan antarbudaya,” tegasnya di hadapan para mahasiswa, dosen dan tamu undangan.

Sementara itu, Prof. Mulyadhi Kartanegara memulai paparannya dengan menegaskan bahwa dalam Islam, metafisika adalah ‘ibu dari segala ilmu’. Ia mengkritik paradigma sains Barat yang sejak era Newton bersifat mekanistik—bahkan dalam bidang biologi dan psikologi—sehingga memisahkan ilmu dari aspek spiritual dan ilahiah.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: