Takluknya Fakta dan Kebenaran

oleh : Masduki BaidlowiKetua MUI Bidang Infokom\n\n\n\nIbarat adu jalan cepat berita yang benar (data dan fakta) itu berjalan tertatih-tatih. Ia hanya bergerak secara linier. Sementara berita bohong...

Takluknya Fakta dan Kebenaran
Bacakan Artikel

 Masduki Baidlowi
Ketua MUI Bidang Infokom

\n\n\n\n

Ibarat adu jalan cepat berita yang benar (data dan fakta) itu berjalan tertatih-tatih. Ia hanya bergerak secara linier. Sementara berita bohong (hoax) berjalan sangat cepat, bahkan melompat-lompat secara eksponensial. Apa akibatnya?

\n\n\n\n

Gampang ditebak. Kebenaran atau fakta kalah total. Ia dicampakkan masyarakat. Hoax lah sebagai pemenang: ia dipercaya dan diyakini publik. Singkatnya, kebohongan yang diulang-ulang lewat berbagai media (multi platform) akhirnya akan menjadi keyakinan publik. Itulah gambaran sederhana tentang post truth (pasca kebenaran). Era yang sedang kita alami sekarang.

\n\n\n\n

Ada contoh menarik. Presiden Jokowi suatu saat bercerita bahwa, lebih dari sepuluh juta rakyat Indonesia percaya kalau dirinya adalah PKI. Informasi bahwa Presiden Indonesia asal Solo itu PKI, jelas berita bohong. Tetapi rakyat sangat yakin dan percaya atas berita bohong tersebut.

\n\n\n\n

Keyakinan publik bisa demikian melekat karena berita bohong itu dibuat berulang-ulang menggunakan teknik buzer dengan teknologi cyber army yang amat canggih. Narasi beritanya pun dibuat dengan angle (sudut pandang) serta fokus yang berbeda-beda. Tak lupa, untuk meyakinkan publik biasanya berita bohong itu dibumbui fakta palsu dan argumentasi yang logis.

\n\n\n\n

Post truth berjalan mengikuti derasnya penggunaan media sosial seiring dengan perubahan sistem informasi dari era konvensional ke sistem digital. Bahkan turunan (derivasi) dari post truth ini telah muncul propaganda model baru yang disebut “damkar kebohongan” (firehose of falsehood).

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: