Purbaya, Sang Menteri Nyentrik yang Buat Ketar-Ketir Lawan

\nOleh: Yakub F. Ismail\n\n\n\nTidak banyak yang tahu sepak terjangnya. Namanya pun jarang muncul di berbagai media baik lokal maupun nasional.\n\n\n\nJangankan muncul di panggung nasional, untuk sekadar nongo...

Purbaya, Sang Menteri Nyentrik yang Buat Ketar-Ketir Lawan
Bacakan Artikel
\n\n\n\n

Purbaya yang tadinya diragukan kemampuannya men-drive situasi perekonomian dalam negeri pelan-pelan mulai mendapatkan apresiasi dan dukungan dari berbagai pihak.

\n\n\n\n

Banjir pujian itu terus mengalir dari satu pintu ke pintu lain, dari satu platfom media ke platform media lainnya.

\n\n\n\n

Di media nasional, wajah Purbaya bahkan tidak pernah alpa dalam menghiasi berbagai ragam pemberitaan yang terbit setiap saat. Seakan sudah disiapkan rubrik khusus untuk memuat perkembangan kinerjanya setiap hari.

\n\n\n\n

Entah ini semua memang di-setting demikian, atau karena memang Purbaya ini adalah kartu truf Prabowo yang sengaja disimpan sambil menunggu momen tepat untuk dikeluarkan, atau seperti apa masih menjadi tanda tanya.

\n\n\n\n

Namun, satu hal pasti, kiprah Menkeu Purbaya di lembaga Kementerian Keuangan akhir-akhir ini menunjukkan citra positif di masyarakat dan perlahan mendapat apresiasi publik.

\n\n\n\n

Beberapa gebrakan Purbaya yang membuat namanya terangkat adalah ketika dirinya mengambil kebijakan cepat untuk meninjau ulang realisasi anggaran pemerintah daerah, bahkan memberi instruksi agar daerah dapat membenahi belanja daerah secara efektif dan optimal.

\n\n\n\n

Selain itu, keputusan Purbaya untuk mengalokasikan dana besar ke Bank Himbara guna memperluas penyaluran kredit, juga sempat mengundang atensi publik.

\n\n\n\n

Langkah berani ini tentu berbeda dengan pendahuluya yang lebih berhati-hati dalam menggunakan instrumen fiskal.

\n\n\n\n

Belum lagi, gaya kepemimpinan Purbaya yang tegas dan agresif dalam beberapa kebijakan membuat banyak pihak mulai menyukai pendekatannya.

\n\n\n\n

Keberaniannya mengambil langkah-langkah yang selama ini dianggap tabu, seperti menekan pemerintah daerah agar memperbaiki kualitas belanja, memotong pemborosan, meningkatkan efisiensi, dan mendorong peran BUMN dan institusi keuangan publik dalam mendukung pertumbuhan ekonomi adalah sebuah ikhtiar yang menunjukkan bahwa dirinya tidak mudah disetir oleh tekanan politik.

\n\n\n\n

Bukti semakin nyata ketika publik mencermati bahwa kebijakan “Lapor Pak Purbaya” dibuat sebagai kanal pengaduan langsung mengenai masalah pajak dan bea cukai bagi masyarakat yang merasa diperlakukan tidak adil.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: