Masuk Abad Kedua, PCNU Tangsel Siapkan Arah 20 Tahun: Fokus Jam’iyah, Jamaah dan Peradaban

Ketua PCNU Tangsel KH Abdullah Masud menegaskan pentingnya mengubah pola pikir pengurus dari sekadar mencari posisi menjadi memberi manfaat bagi jamaah. Fokus utama diarahkan pada penguatan jam’iyah, pemberdayaan jamaah, kemandirian ekonomi, peningkatan SDM, transformasi digital, penguatan pesantren dan dakwah Aswaja, serta menjadikan NU sebagai pilar peradaban dan rumah besar kebangsaan.

Masuk Abad Kedua, PCNU Tangsel Siapkan Arah 20 Tahun: Fokus Jam’iyah, Jamaah dan Peradaban
Bacakan Artikel

HARIANRAKYAT.ID, TANGSEL— Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tangerang Selatan  (Tangsel) mulai menatap jauh ke depan. Tak sekadar menjalankan masa khidmat lima tahunan, organisasi ini menyiapkan arah besar hingga 20 tahun ke depan, menuju 2046.

Ketua PCNU Kota Tangsel KH Abdullah Masud menegaskan, memasuki abad kedua NU, seluruh jajaran pengurus harus mengubah cara pandang dalam berkhidmat. Ia mengingatkan, NU bukan tempat mencari posisi, melainkan ladang pengabdian.

“Mulai malam ini, jangan bertanya apa yang akan kita dapatkan dari NU. Tapi tanyakan pada diri kita masing-masing, apa yang akan kita berikan kepada NU,” tegasnya di hadapan pengurus masa khidmat 2026–2031, di Graha Aswaja Pondok Aren Kota Tangsel, Sabtu (8/8/2026).

Menurutnya, ukuran keberhasilan bukanlah jabatan dalam struktur, melainkan sejauh mana manfaat yang bisa dirasakan jamaah. 

“Jangan bertanya seberapa tinggi posisi kita. Tapi seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan,” ujarnya.

KH Abdullah Masud mengingatkan, satu abad pertama NU adalah masa perjuangan para muassis—mendirikan jam’iyah, menjaga agama, mempertahankan kemerdekaan, hingga merawat kebangsaan. Kini, tantangan berubah.

“Pertanyaan kita sekarang, apa yang akan kita wariskan pada abad kedua NU?” katanya.

Ia menekankan, generasi saat ini menerima NU sebagai organisasi besar dengan tradisi yang kokoh dan jamaah yang jutaan. Karena itu, tugas utama adalah memastikan kebesaran itu benar-benar memberi manfaat nyata.

“Jamaah harus mendapatkan pendidikan yang baik, pelayanan kesehatan, penguatan ekonomi, ruang pengembangan generasi muda, hingga masa depan yang lebih sejahtera,” jelasnya.

Prinsip Aswaja tetap menjadi pegangan: menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Namun, menurutnya, NU tak boleh lagi sekadar mengikuti perubahan zaman.

“NU tidak cukup menjadi user. Kita harus menjadi creator, innovator, dan problem solver bagi persoalan umat dan bangsa,” tegasnya.

Untuk itu, PCNU Tangsel menyiapkan arah pembangunan jam’iyah jangka panjang. Meski masa khidmat pengurus hanya lima tahun, visi yang dibangun harus melampaui itu.

“Agar siapapun yang memimpin setelah kami, memiliki arah yang jelas dan berkesinambungan,” katanya.

Arah khidmat 20 tahun itu ditopang sejumlah agenda besar. Pertama, menguatkan jam’iyah sebagai fondasi organisasi. Kedua, memberdayakan jamaah agar lebih mandiri dan sejahtera.

Ketiga, membangun kemandirian ekonomi warga NU. Keempat, melakukan revolusi pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Kelima, mendorong transformasi digital di tubuh NU.

Selain itu, PCNU Tangsel juga menargetkan penguatan pesantren, dakwah dan nilai-nilai Aswaja, serta menjadikan NU sebagai rumah besar kebangsaan yang inklusif.

Dengan arah besar ini, PCNU Tangsel ingin memastikan NU tidak hanya besar secara struktur, tetapi juga kuat secara peran dan manfaat di tengah masyarakat.

“Abad kedua NU harus menjadi abad kemanfaatan, kemajuan, dan peradaban,” pungkas KH Abdullah Masud. (din).