Grup Tjokro (GPSO) Masih Rugi Rp1,73M di Kuartal III-2026

Grup Tjokro (GPSO) Masih Rugi Rp1,73M di Kuartal III-2026
Bacakan Artikel

EmitenTrust.com - PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) emiten grup Tjokro mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 194,08% menjadi Rp9,18 miliar hingga kuartal III-2026, dibandingkan Rp3,12 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Seiring peningkatan pendapatan tersebut, perseroan berhasil menekan rugi bersih menjadi Rp1,73 miliar dari sebelumnya Rp4,12 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan interim per 30 September 2026, GPSO membukukan laba kotor sebesar Rp1,15 miliar. Namun, angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,90 miliar.

Penurunan laba kotor terjadi karena beban pokok penjualan meningkat signifikan menjadi Rp8,03 miliar, dibandingkan Rp1,21 miliar pada September 2025.

Dari sisi beban operasional, GPSO mencatatkan total beban usaha sebesar Rp3,49 miliar, lebih rendah dibandingkan Rp5,98 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Beban umum dan administrasi tercatat sebesar Rp3,23 miliar, turun dari Rp5,50 miliar. Sementara beban penjualan juga menyusut menjadi Rp263,86 juta dari sebelumnya Rp479,62 juta.

Dengan kondisi tersebut, perseroan masih membukukan rugi operasi sebesar Rp2,34 miliar. Meski demikian, angka tersebut membaik dibandingkan rugi operasi Rp4,08 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

GPSO juga memperoleh pendapatan lain-lain bersih sebesar Rp610,36 juta, berbalik dibandingkan periode sebelumnya yang mencatatkan beban lain-lain sebesar Rp42,11 juta.

Alhasil, rugi sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar Rp1,73 miliar, menyusut dibandingkan rugi Rp4,12 miliar pada September 2025. Rugi bersih tahun berjalan juga berhasil ditekan menjadi Rp1,73 miliar dari sebelumnya Rp4,12 miliar.

Dari sisi neraca, total aset GPSO mencapai Rp79,57 miliar per 30 September 2026. Jumlah tersebut meningkat 62,76% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp48,89 miliar.

Aset lancar menjadi salah satu pendorong peningkatan total aset, dengan nilai mencapai Rp58,74 miliar, melonjak dibandingkan Rp26,22 miliar pada akhir 2025.