Fenomena Dedi Mulyadi dan Tugas \'Sang Pemimpin Daerah\'

\nOleh: Yakub F. Ismail\n\n\n\nSosok Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM (akronim dari Kang Dedi Mulyadi) belakangan ini cukup mencuri perhatian publik.\n\n\n\nGubernur Jawa Barat itu muncul dalam ragam ru...

Fenomena Dedi Mulyadi dan Tugas \'Sang Pemimpin Daerah\'
Bacakan Artikel
\n\n\n\n

Dari sana faktor kedisukaan (likeability) terus menemukan momentum. Professor of psychology and neuroscience University of North Carolina at Chapel Hill, Mitch Prinstein menulis, apa yang membuat seseorang terkenal tak lain karena adanya faktor kedisukaan yang lahir dari cara dia membangun kedekatan dengan masyarakat.

\n\n\n\n

\"When it comes to likeability, one of the biggest factors is someone that acts in prosocial ways.\"

\n\n\n\n

Apa yang Harus Dilakukan para Kepala Daerah?

\n\n\n\n

Tren kepopuleran KDM di satu sisi membuat namanya melambung tinggi dalam jagat pemberitaan nasional, di sisi lain menimbulkan \"kekhawatiran\" yang tidak tampak (invisible reaction) pada para kepala daerah lainnya.

\n\n\n\n

Situasi ini meski tidak terlihat di publik, namun bisa dipahami secara imajinatif (sociological imagination).

\n\n\n\n

Ini mudah dipahami karena naiknya popularitas KDM secara tidak langsung mengalihkan seluruh pasang mata publik (nasional) ke sosok KDM dan Jawa Barat.

\n\n\n\n

Masyarakat secara tidak langsung menjadikan KDM sebagai idola baru yang dianggap paling representatif sebagai seorang pemimpin daerah.

\n\n\n\n

Masyarakat pun tanpa sadar memuji \"habis-habisan\" program atau kebijakan populis yang dicanangkan KDM di Jawa Barat, ambil contoh program pemutihan pajak kendaraan, evaluasi izin tambang, larangan tour luar negeri hingga pungli.

\n\n\n\n

Sederet kebijakan tersebut bahkan dianggap sebagai terobosan besar yang patut diadopsi di daerah masing-masing.

\n\n\n\n

Parahnya, ada yang sampai membanding-bandingkan sosok KDM dengan Gubernur terkait yang dinilai tidak becus mengurus daerah.

\n\n\n\n

Lucunya, ada yang sampai meminta agar dilakukan penukaran terhadap Gubernur atau kepala daerah dengan sosok KDM.

\n\n\n\n

Jelas bahwa pandangan-pandangan di atas selain bias fakta alias tidak relevan, juga turut membentuk persepsi negatif terhadap kepala daerah tertentu.

\n\n\n\n

Padahal, mereka tidak mengerti kondisi aktual yang terjadi di setiap daerah. Mereka lupa bahwa tiap daerah punya kompleksitas masalah yang berbeda-beda, sehingga butuh penanganan yang berbeda pula.

\n\n\n\n

Seorang kepala daerah yang cakap dan berhasil di satu daerah, belum tentu bisa berhasil ketika memimpin daerah lain.

\n\n\n\n

Sebab, masyarakat yang dihadapi pasti tidak sama, budaya, permasalahan kronis, potensi daerah hingga kondisi birokrasi yang ada memiliki dimensi persoalan yang berbeda-beda yang tidak bisa digeneralisir begitu saja.

\n\n\n\n

Ambil contoh, Jokowi di saat memimpin Kota Solo, termasuk salah satu kepala daerah yang paling sukses menata wilayahnya.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: