Baru Sepekan  80 Lubang Biopori Terpasang di Cireundeu, Biaya Tukang Minim Jadi Keluhan di Lapangan

Program pembuatan lubang biopori di Kelurahan Cireundeu mulai berjalan dengan capaian awal 80 titik dalam sepekan.

Baru Sepekan  80 Lubang Biopori Terpasang di Cireundeu, Biaya Tukang Minim Jadi Keluhan di Lapangan
Biopori -Proses pembuatan lubang biopori di wilayah Kelurahan Cireundeu dalam mengurangi sampah dan memaksimalkan serapan air.
Bacakan Artikel

HARIANRAKYAT.ID, TANGSEL- Program pembuatan lubang biopori di Kelurahan Cireundeu, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), mendapat respons positif dari masyarakat. Tingginya antusiasme warga menjadi salah satu faktor pelaksanaan program tersebut, meskipun masih terdapat beberapa kendala di lapangan utamanya ongkos tukang sangat kecil. 

Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial Kelurahan Cireundeu, Hadi mengatakan program biopori mendapat sambutan baik dari masyarakat. Bahkan, banyak warga yang secara sukarela meminta agar lokasi rumah mereka menjadi prioritas dalam pelaksanaan program tersebut.

"Pak, besok di saya ya. Pak, boleh cuma minta pipanya? Banyak yang berebut minta didahulukan," ujarnya menirukan percakapan warga, Kamis (2/7/2026).

Tingginya antusiasme membuktikan masyarakat mulai memahami manfaat lubang biopori. Mengurangi sampah organik maupun meningkatkan resapan air. Sehingga dapat membantu mengurangi risiko banjir.

"Kelurahan telah melakukan sosialisasi beberapa bulan sebelum pelaksanaan. Sosialisasi dilakukan kepada pengurus RW, kemudian diteruskan kepada RT dan warga.  Sehingga masyarakat  memahami tujuan dan manfaat program sejak jauh hari," imbuhnya.

Program pembuatan lubang biopori mulai dilaksanakan pada 22 Juni 2026. Hingga saat ini, sebanyak 80 titik telah selesai dikerjakan. Sementara itu, target yang ingin dicapai 1.300 titik. Meskipun pelaksanaannya berjalan lancar dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Terdapat beberapa kendala di lapangan.

"Tanahnya keras, di bawah batu. Pindah ke tempat lain, di bawahnya juga batu, jadi pengerjaannya lebih lambat. Mesin kalau dipakai terus sering rusak, ada yang copot," tukasnya.

Hambatan lain, masih ada pengurus RT yang kurang respon terhadap program ini. Padahal sudah berkali-kali disampaikan untuk mendukung pengurangan sampah.

"Di sisi lain, masih ada beberapa RT yang belum siap sehingga target jumlah lubang biopori di wilayah tersebut belum dapat dipenuhi," tambah ia. 

Termasuk ongkos per hari Rp 90 ribu per orang jadi hambatan tersendiri. Di lapangan banyak yang tidak bersedia dengan upah sangat kecil. Biopori progresnya jalan, berkat partisipasi warga, bukan murni dari tukang karena upahnya sangat minim sekali. "Jarang yang mau garap, upahnya kecil," tutupnya. (Cr01).