Bahaya Utang Pinjol: Risiko Gagal Bayar Naik, Ekonomi RI Terancam

\nOleh: Yakub F. Ismail\n\n\n\nDalam upaya pemerintah menjaga stabilitas ekonomi nasional, muncul satu tantangan yang tidak bisa dipandang sebelah mata, yakni melonjaknya angka utang pinjaman online (pinjo...

Bahaya Utang Pinjol: Risiko Gagal Bayar Naik, Ekonomi RI Terancam
Bacakan Artikel
\n\n\n\n

Dampak terhadap Ekonomi Makro

\n\n\n\n

Dilihat dari implikasi yang ditimbulkan, utang pinjol dapat memberikan dampak terhadap makroekonomi.

\n\n\n\n

Seperti terlihat, akumulasi utang pinjol yang menembus angka Rp101 triliun harus dicermati sebagai potensi risiko sistemik.

\n\n\n\n

Hal ini terutama bila dibarengi dengan tingkat kredit macet yang terus meningkat. Ketika sebagian besar peminjam atau debitur mengalami situasi gagal bayar, maka akan berpengaruh terhadap penurunan kualitas aset lembaga fintech yang memberi pinjaman (kreditur/lender).

\n\n\n\n

Dalam skala makro, kondisi ini dapat memicu krisis kepercayaan terhadap sektor keuangan digital.

\n\n\n\n

Namun, risiko yang jauh lebih besar juga tidak bisa diabaikan, yakni efek domino atau efek rambatan terhadap konsumsi rumah tangga.

\n\n\n\n

Cara menganalisisnya cukup sederhana, ketika masyarakat terjebak utang, maka mereka cenderung mengalokasikan pendapatannya untuk membayar cicilan.

\n\n\n\n

Hal tersebut secara tidak langsung akan mengurangi daya beli. Jadi, penurunan daya beli masyarakat ini berbanding lurus dengan beban pembayaran cicilan atas pinjaman yang mereka lakukan.

\n\n\n\n

Ketika terjadi konsumsi melemah dalam skala luas, maka pertumbuhan ekonomi nasional pun ikut terdampak, sehingga akan mengalami pelambatan pertumbuhan.

\n\n\n\n

Yang menarik, beban utang pinjol masyarakat senilai Rp101 triliun jelas sudah sangat memberi kejutan terhadap APBN. Belum lagi jika ditambah dengan kebutuhan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp335 triliun.

\n\n\n\n

Dengan demikian, jika digabung keduanya, maka angkanya mencapai Rp436 triliun, atau setara 11,35% dari APBN Rp3.842,7 triliun.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: