Soft Power dan Soft Invasion: Diplomasi Budaya di Era Media Digital

\nOleh : Nisa Dwi Saputri \n\n\n\nDalam dua dekade terakhir, budaya menjelma sebagai kekuatan global yang mampu menggeser peta diplomasi internasional. Dominasi negara tidak lagi semata ditentukan ole...

Soft Power dan Soft Invasion: Diplomasi Budaya di Era Media Digital
Bacakan Artikel
\n\n\n\n

Manovich (2020) menjelaskan bahwa algoritma memperkuat apa yang paling sering dikonsumsi, bukan yang paling beragam. Pola konsumsi ini menciptakan lingkaran dominasi budaya. Budaya dominan semakin terlihat, sementara budaya lain semakin tersisih. Inilah mekanisme utama soft invasion di era digital.

\n\n\n\n

Dampak lain dari dominasi ini adalah meningkatnya kesalahpahaman antarbudaya. Chen dan Starosta (2020) menekankan bahwa perbedaan konteks makna sering memicu konflik komunikasi. Simbol atau ekspresi sederhana dapat ditafsirkan berbeda. Tanpa empati budaya, ruang digital menjadi arena gesekan makna.

\n\n\n\n

Menghadapi situasi ini, Indonesia perlu mengubah posisinya. Dari sekadar konsumen budaya global menjadi produsen budaya digital. Digitalisasi budaya lokal, pemberdayaan diaspora, dan literasi budaya menjadi langkah strategis. Seperti ditegaskan Mubarok (2023), diplomasi budaya harus berakar pada keunikan lokal yang dikemas secara global. Dengan cara ini, soft power dapat kembali menjadi ruang dialog, bukan dominasi.

\n\n\n\n

Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta

\n\n\n\n

\n
Pilih Halaman: