Prof. Hasani Ahmad Said Ajak Guru Ngaji Terus Belajar dan Hidupkan Kuttab Al-Qur’an

Prof. Hasani Ahmad Said mengajak ratusan guru ngaji se-Tangerang Selatan untuk terus meningkatkan kapasitas keilmuan dan menghidupkan kembali kuttab sebagai basis pendidikan Al-Qur’an sejak usia dini. Menurutnya, guru harus terus belajar sekaligus menjadi teladan dalam membangun generasi Muslim yang berilmu, berakhlak, dan mencintai Al-Qur’an.

Prof. Hasani Ahmad Said Ajak Guru Ngaji Terus Belajar dan Hidupkan Kuttab Al-Qur’an
Bacakan Artikel

HARIANRAKYAT.Id, TANGSELGuru Besar UIN Jakarta, Prof. Dr. KH. Hasani Ahmad Said, M.A., yang juga Wakil Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat, mengajak para guru ngaji di Tangerang Selatan untuk terus meningkatkan kapasitas keilmuan sekaligus menghidupkan kembali tradisi pendidikan Al-Qur’an sejak usia dini.

Pesan tersebut disampaikan Prof. Hasani saat memberikan ceramah di hadapan ratusan guru ngaji se-Tangerang Selatan di Masjid Al-Mujahidin, Pamulang, Rabu (19/9/2026).

Dalam ceramahnya, Prof. Hasani menekankan bahwa seorang guru tidak boleh berhenti belajar. Menurutnya, tugas seorang guru bukan hanya menyampaikan ilmu kepada peserta didik, tetapi juga terus memperbarui dan memperdalam pengetahuan yang dimilikinya.

Ia mengingatkan pesan Nabi Muhammad SAW yang berbunyi, *“Khairukum man ta'allamal Qur'ana wa 'allamahu”*, yang berarti sebaik-baik manusia adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.

“Guru itu selain mengajar jangan pernah berhenti belajar. Karena proses belajar dan mengajar merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan,” pesan Prof. Hasani di hadapan para guru ngaji.

Selain mendorong peningkatan kualitas guru, Prof. Hasani juga mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan kuttab-kuttab sebagai basis pendidikan Al-Qur’an sejak usia dini.

Menurutnya, pendidikan Al-Qur’an perlu diberikan secara serius sejak anak-anak berada pada usia awal, sehingga sebelum memasuki usia sekolah formal, mereka telah memiliki fondasi keagamaan yang kuat, bahkan diharapkan telah menyelesaikan pembelajaran dasar Al-Qur’an dan memiliki hafalan Al-Qur’an.

“Jangan sampai pendidikan Al-Qur’an baru dimulai ketika anak sudah besar. Kuttab harus kembali dihidupkan sebagai basis pendidikan Al-Qur’an sejak dini,” ujarnya.

Prof. Hasani kemudian mengisahkan cita-cita Syaikhul Azhar, Prof. Dr. Ahmad at-Tayyeb, terkait pendidikan Al-Qur’an dan pengabdian kepada generasi muda. Dalam sebuah kesempatan kunjungan ke Indonesia, menurut Prof. Hasani, Syaikhul Azhar menyampaikan keinginannya bahwa di usia tua ia ingin mengajar anak-anak di surau-surau.

Bahkan, lanjut Prof. Hasani, Syaikhul Azhar disebut memiliki kecintaan yang begitu besar terhadap aktivitas mengajar sehingga rela meletakkan jabatan demi dapat kembali mengabdikan diri dalam pendidikan anak-anak.

Kisah tersebut, menurut Prof. Hasani, menjadi teladan bahwa mengajar Al-Qur’an merupakan bentuk pengabdian yang sangat mulia dan tidak dibatasi oleh jabatan maupun usia.

“Ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa mengajarkan Al-Qur’an adalah kemuliaan. Jabatan boleh selesai, tetapi pengabdian untuk mengajarkan Al-Qur’an harus terus berjalan,” tuturnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, anggota DPRD, komisioner BAZNAS Tangerang Selatan, Ketua Persatuan Guru Ngaji, serta ratusan guru ngaji dari berbagai wilayah di Tangerang Selatan.

Kehadiran para pemangku kepentingan dan ratusan guru ngaji tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap keberadaan guru ngaji sebagai salah satu pilar penting dalam membangun karakter dan kehidupan keagamaan masyarakat.

Prof. Hasani berharap para guru ngaji tidak hanya menjadi pengajar Al-Qur’an, tetapi juga menjadi teladan dan penggerak pendidikan keagamaan di tengah masyarakat. Menurutnya, penguatan pendidikan Al-Qur’an sejak usia dini perlu dilakukan secara bersama-sama agar lahir generasi yang memiliki fondasi keislaman, kecintaan terhadap Al-Qur’an, serta karakter yang kuat.

Dengan menghidupkan kembali kuttab dan memperkuat kapasitas para guru ngaji, pendidikan Al-Qur’an diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan tambahan, tetapi menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi Muslim yang berilmu, berakhlak, dan mencintai Al-Qur’an.

Prof. Hasani juga mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali kuttab sebagai basis pendidikan Al-Qur’an sejak usia dini. Menurutnya, gagasan tersebut sejatinya memiliki akar yang kuat dalam tradisi pendidikan Islam di Indonesia. Sejak dahulu, masyarakat Nusantara telah mengenal berbagai bentuk pendidikan berbasis komunitas seperti surau, langgar, musala, pesantren, dan madrasah diniyah yang menjadi tempat anak-anak belajar membaca Al-Qur’an, dasar-dasar agama, serta akhlak. 

"Karena itu, menghidupkan kembali kuttab bukan berarti menghadirkan sesuatu yang asing, melainkan memperkuat kembali tradisi pendidikan Al-Qur’an yang telah lama hidup di tengah masyarakat Indonesia dengan pendekatan yang lebih terarah dan sesuai kebutuhan zaman," tutupnya. (*).