Bupati Tegal Apresiasi Peluncuran Buku Biografi Maestro Tari Endel Sawitri

Buku ini merekam dedikasi Sawitri dalam menjaga Tari Topeng Endel serta menjadi referensi bagi generasi muda untuk mengenal dan melestarikan budaya khas Kabupaten Tegal.

Bupati Tegal Apresiasi Peluncuran Buku Biografi Maestro Tari Endel Sawitri
Bacakan Artikel

HARIANRAKYAT.ID, TANGSELBupati Tegal H. Ischak Maulana Rohman, S.H., mengapresiasi peluncuran buku Aku Ingin Menari Sampai Mati: Biografi Maestro Seni Tari Endel, Ibu Sawitri. Buku tersebut mengangkat perjalanan hidup Sawitri sebagai maestro Tari Endel sekaligus mendokumentasikan seni budaya khas Kabupaten Tegal.

Hal itu disampaikan dalam acara peluncuran buku yang dihadiri jajaran Pemerintah Kabupaten Tegal, perwakilan Kementerian Kebudayaan, Bank Indonesia, pimpinan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), seniman, budayawan, serta guru seni budaya tingkat SMP se-Kabupaten Tegal.

Menurut Ischak, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui pertunjukan seni. Perjalanan dan kiprah para pelaku seni juga perlu dicatat dan didokumentasikan agar dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

"Pelestarian kebudayaan tidak hanya cukup dengan menampilkan kesenian di atas panggung, tetapi kita juga perlu mencatat, mendokumentasikan, dan mewariskan sejarah serta rekam jejak para pelaku seni dan budaya yang telah memberikan pengabdian serta dedikasinya," ujar Ischak di Lasnur Convention Hall, Procot, Slawi, Kabupaten Tegal, Selasa (11/8/2026).

Buku Aku Ingin Menari Sampai Mati mengangkat perjalanan hidup dan dedikasi Sawitri, maestro Tari Topeng Endel khas Tegal. Di usianya yang sekitar 80 tahun, Sawitri masih dikenal sebagai salah satu sosok yang turut menjaga keberadaan dan keaslian Tari Endel.

Ischak mengatakan kesenian merupakan bagian dari identitas suatu daerah. Kabupaten Tegal memiliki beragam kesenian dan tradisi yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat, di antaranya Tari Endel, Balo-Balo, dan Sintren.

Menurutnya, berbagai kesenian tersebut perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Peluncuran buku tersebut juga menjadi ajang untuk mengenalkan kesenian dan budaya daerah kepada generasi muda.

Ischak mengajak orang tua, pendidik, seniman, budayawan, serta masyarakat untuk memberikan ruang kepada anak-anak dan generasi muda agar dapat mengenal, mempelajari, dan mengembangkan budaya lokal.

"Generasi muda adalah pemegang mandat dan pemelihara kebudayaan kita sendiri. Jangan sampai anak-anak kita lebih mengenal budaya luar daripada kebudayaan daerahnya sendiri. Upaya pelestarian budaya membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, seniman, budayawan, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas," tegasnya.

Buku Aku Ingin Menari Sampai Mati turut mendokumentasikan perjalanan Sawitri dan Tari Endel. Buku tersebut juga dapat menjadi referensi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal lebih dekat salah satu kesenian khas Kabupaten Tegal. (ris).