Ribuan Orang Padati Monas, Prof Hasani Serukan Islam Moderat dan NKRI Harga Mati

Ribuan masyarakat dari berbagai elemen memadati kawasan Monas, Jakarta, dalam kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT RI.

Ribuan Orang Padati Monas, Prof Hasani Serukan Islam Moderat dan NKRI Harga Mati
Bacakan Artikel

HARIANRAkYAT.ID, JAKARTA-Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. KH. Hasani Ahmad Said, M.A., menghadiri kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan yang diselenggarakan di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta.

Kegiatan itu sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia. Kehadiran Prof. Hasani sebagai bagian undangan tokoh agama menjadi wujud komitmen kalangan akademisi perguruan tinggi keagamaan Islam dalam mendukung penguatan nilai-nilai spiritual, persatuan, dan kebangsaan di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk.

Kegiatan yang digagas Kementerian Agama Republik Indonesia tersebut menghadirkan ribuan peserta dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh agama, akademisi, pimpinan perguruan tinggi, santri, mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat umum. 

Agenda ini menjadi momentum bersama untuk memanjatkan doa bagi bangsa sekaligus memperkuat semangat persaudaraan lintas agama dan lintas elemen masyarakat dalam menyongsong bulan kemerdekaan Indonesia. Acara ini memang dirancang sebagai ruang kebersamaan nasional yang menggabungkan zikir, selawat, doa lintas agama, dan refleksi kebangsaan.

Bagi Prof. Hasani Ahmad Said, kegiatan seperti Zikir dan Doa Kebangsaan memiliki makna yang jauh melampaui seremoni keagamaan. Menurutnya, doa merupakan ikhtiar spiritual yang berjalan berdampingan dengan kerja nyata seluruh anak bangsa dalam membangun Indonesia. 


Nilai-nilai religius yang hidup dalam masyarakat Indonesia harus senantiasa menjadi fondasi moral bagi pembangunan nasional agar kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari aspek ekonomi dan teknologi, tetapi juga dari kualitas akhlak, persatuan, serta kehidupan sosial yang harmonis.

Sebagai Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang selama ini dikenal aktif mengembangkan kajian Islam moderat, kebudayaan, dan kehidupan beragama, Prof. Hasani memandang bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam memperkuat karakter kebangsaan. 


Kampus bukan hanya tempat lahirnya ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan nilai, etika, dan kepemimpinan yang berpijak pada semangat kebangsaan serta penghormatan terhadap keberagaman.

Keikutsertaan Prof. Hasani bersama para tokoh nasional dalam kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan sinergi antara dunia akademik dan pemerintah dalam merawat semangat persatuan Indonesia. Kehadiran para akademisi dinilai penting sebagai representasi kalangan intelektual yang tidak hanya berkontribusi melalui penelitian dan pendidikan, tetapi juga aktif membangun kesadaran sosial dan spiritual masyarakat.

Suasana di kawasan Monas berlangsung khidmat sejak sore hingga malam hari. Ribuan peserta memadati lokasi acara untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang diawali dengan pembacaan Al-Qur'an, zikir bersama, selawat kebangsaan, hingga doa lintas agama yang dipimpin oleh para pemuka agama sebagai simbol kerukunan nasional. Momentum tersebut menjadi cerminan bahwa keberagaman Indonesia dapat dirawat melalui ruang-ruang dialog, penghormatan, dan doa bersama demi kepentingan bangsa.

Dalam perspektif akademik, Prof. Hasani melihat bahwa nilai-nilai kebangsaan tidak dapat dipisahkan dari ajaran agama yang mengedepankan kemaslahatan, perdamaian, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Karena itu, kegiatan seperti Zikir dan Doa Kebangsaan menjadi sarana memperkuat kesadaran kolektif bahwa agama memiliki peran besar dalam membangun optimisme, solidaritas sosial, serta memperkokoh komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Momentum tersebut juga menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hasil perjuangan seluruh elemen bangsa yang berasal dari berbagai latar belakang agama, budaya, dan suku. Oleh sebab itu, menjaga persatuan menjadi tanggung jawab bersama yang harus terus diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan, keteladanan, dan penguatan karakter kebangsaan.

Sebagai institusi pendidikan tinggi Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta selama ini konsisten mengembangkan tradisi akademik yang mengintegrasikan keislaman, keilmuan, dan keindonesiaan. Kehadiran Prof. Hasani Ahmad Said dalam Zikir dan Doa Kebangsaan mencerminkan semangat tersebut, yakni menghadirkan nilai-nilai Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan bangsa.

Melalui partisipasi para guru besar, dosen, dan akademisi dalam agenda kebangsaan, diharapkan terbangun sinergi yang semakin kuat antara dunia pendidikan, pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut menjadi modal penting untuk menghadapi berbagai tantangan bangsa sekaligus menjaga Indonesia tetap kokoh sebagai negara yang religius, demokratis, damai, dan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. (*).