HARIANRAKYAT.ID, KOTA TANGSEL- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang Selatan menggelar “Konsolidasi Elemen Seni dan Budaya Islam se Kota Tangsel” di Gedung Kelembagaan, Jalan Siliwangi No. 2, Pamulang, Kamis (18/12/2025).
Kegiatan ini menjadi ruang temu dan dialog antara ulama, budayawan, seniman, serta unsur pemerintah daerah dalam memperkuat peran seni sebagai media dakwah.
Acara dibuka oleh Asisten Daerah (Asda) III Kota Tangsel, Dandi Priyandana menyampaikan apresiasi Wali Kota Tangsel atas inisiatif MUI yang memiliki terhadap seni dan budaya Islam. Hal ini menunjukkan kepedulian nyata dalam membangun dakwah yang sejuk dan inklusif di tengah masyarakat urban.
Sekretaris I MUI Tangsel, H. Heli Slamet, menegaskan bahwa seni dan budaya Islam memiliki akar kuat dalam tradisi dakwah.
“Seni bukan sekadar hiburan, melainkan sarana menyampaikan nilai-nilai keislaman dengan cara yang lembut dan mudah diterima masyarakat,” ujarnya di dampingi Ketua Panitia KH Haryadi.
Sementara itu, diskusi dipandu KH Usman selaku moderator. Ia menekankan bahwa seni memiliki kemandirian. Ada atau tidaknya dukungan anggaran pemerintah, seni akan tetap hidup di tengah masyarakat. Namun, jika pemerintah hadir menopang, maka geliat seni Islam akan tumbuh lebih kuat dan terarah.
Kasi Kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel, Sugeng, menjelaskan bahwa kebudayaan kini bersanding langsung dengan dunia pendidikan, setelah sebelumnya berada di bawah dinas pariwisata. Ia menyebutkan, bidang kebudayaan di Tangsel dibagi ke dalam tiga fokus utama, yakni sejarah, adat/cara, dan kesenian.
Pada aspek sejarah, Pemkot Tangsel mendorong penulisan buku-buku sejarah lokal serta perawatan cagar budaya. Saat ini, dua situs telah ditetapkan sebagai cagar budaya, yakni Kramat Tajug dan Makam Pahlawan Lengkong. Selain itu, Tugu Proklamasi Serpong tengah dalam proses penetapan sebagai cagar budaya karena merupakan peninggalan penting warga Serpong yang harus dirawat bersama.
Sementara di bidang kesenian, program diarahkan pada pembinaan anak-anak dan remaja melalui kegiatan budaya, paduan suara, hingga pelatihan hadroh. Bahkan, dinas pernah menggelar pelatihan hadroh sekaligus memberikan bantuan alat hadroh kepada masyarakat.
“Kami berharap ada kolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat dan MUI agar seni Islam semakin masuk dan berkembang di Tangsel,” ujar Sugeng.
Ia juga mengungkapkan bahwa Pemkot Tangsel tengah menyusun Peraturan Wali Kota (Perwal) tentang Seni, yang ditargetkan rampung pada 2026. Ke depan, kesenian hadroh akan didata di setiap kecamatan sebagai bagian dari penguatan ekosistem seni Islam.
“Tangsel sudah memiliki payung hukum seni. Ini bukti kepedulian pemerintah cukup besar. Seni bisa menghadirkan ketenangan, dari kegundahan menjadi kebahagiaan,” katanya.
Sementara itu, Direktur Historia Tangsel, Agam Pamungkas, mengangkat tema seni dan budaya sebagai media dakwah. Ia menegaskan bahwa unsur seni adalah bagian dari ciptaan Allah SWT.
“Allah menciptakan alam semesta dengan keindahan dan variasi warna. Manusia sejatinya hanya mengadopsi mahakarya Allah,” ujarnya.
Agam mencontohkan keberagaman warna di bumi, berbeda dengan bulan yang tampak tanpa warna, serta matahari yang memancarkan nuansa jingga dan kuning. Dalam tradisi Islam, seni juga hadir dalam musik dan spiritualitas, seperti karya Duror Nafasala yang diciptakan Isa al-Mausili, serta sistem notasi yang dinisbatkan kepada Nabi Daud AS. Dalam tradisi sufi, musik menjadi mediator yang mudah masuk ke dalam sukma dan mengantarkan pada penghayatan hakikat.
“Seni dan budaya telah lama menjadi media dakwah, sebagaimana dilakukan Walisongo. Bukan hanya melalui musik, tetapi juga arsitektur. Jadi musik bukan milik satu peradaban saja,” tegasnya.
Dari perspektif teknologi modern, Azharul Fuad, pelaku IT, memaparkan materi tentang pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam seni dan budaya Islam. Ia menegaskan bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti moral dan nilai kemanusiaan.
“Dalam perspektif Islam, seni dan musik diberi ruang luas selama tidak bertentangan dengan syariat. Jangan serta-merta diharamkan. Teknologi, termasuk AI, adalah kesempatan untuk maju, bukan ancaman,” ujarnya.
Konsolidasi ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan sinergi antara ulama, seniman, budayawan, dan pemerintah dalam menjadikan seni dan budaya Islam sebagai media dakwah yang relevan, berkelanjutan, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat Kota Tangerang Selatan. (din).



