Kekeringan Melanda Pulosari Pemalang, Aktivitas Warga dan Pertanian Terdampak

Dusun Krajan dan Dusun Tugu menjadi wilayah yang paling terdampak, membuat warga kesulitan memperoleh air bersih dan harus membeli air hingga sekitar Rp1 juta per keluarga setiap bulan.

Kekeringan Melanda Pulosari Pemalang, Aktivitas Warga dan Pertanian Terdampak
Bacakan Artikel

HARIANRAKYAT.ID, PEMALANG — Sejumlah wilayah di Desa Pulosari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, dilanda kekeringan. Krisis air bersih mulai dirasakan warga berkisar sejak Maret atau April 2026 membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Kasi Kesejahteraan Desa Pulosari, Ali Nasrudin, mengatakan wilayah yang paling parah terdampak berada di Dusun Krajan dan Dusun Tugu.

“Yang terdampak ada di RT 1 dan RT 2 Dusun Krajan. Kemudian di Dusun Tumbu mencakup RT 34, 35, 38, 39, hingga RT 40. Wilayah-wilayah ini menjadi titik yang paling parah,” kata Ali, Jumat (14/8/2026).

Sementara itu, warga di wilayah RT bagian bawah masih relatif terbantu dengan pasokan air dari PDAM.

Kondisi kekeringan membuat sumber air warga semakin sulit diandalkan. Pembuatan sumur juga sulit dilakukan, sedangkan aliran sungai di wilayah tersebut telah mengering.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga akhirnya harus membeli air bersih menggunakan tangki. Pengeluaran untuk kebutuhan air pun menjadi bertambah.

Ali mengatakan, satu keluarga bisa mengeluarkan biaya hingga Rp250.000 per minggu untuk membeli air bersih.

“Kalau dikalkulasikan, dalam satu bulan satu keluarga bisa menghabiskan sekitar Rp1 juta hanya untuk membeli air bersih,” ujarnya.

Biaya tersebut cukup membebani warga, terutama karena kekeringan juga membuat aktivitas pertanian terganggu.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan warga, BPBD menyalurkan air bersih sekitar satu kali dalam sepekan. Bantuan juga datang dari sejumlah komunitas dan relawan.

Namun, Ali mengatakan bantuan yang datang belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan warga di wilayah terdampak.

Pemerintah Desa Pulosari sebelumnya telah menyediakan toren di setiap RT yang terdampak. Pengadaan tersebut menggunakan anggaran penanganan bencana pada tahun sebelumnya.

Namun, saat ini toren di sejumlah wilayah sering kosong karena keterbatasan anggaran untuk pengadaan air secara rutin. Ketika bantuan tidak datang, warga terpaksa membeli air sendiri.

Dampak kekeringan juga dirasakan petani dan peternak. Para peternak kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan ternak, sementara sebagian petani memilih tidak menanam karena khawatir mengalami gagal tanam.

Akibatnya, sebagian petani memilih mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagian dari mereka akhirnya bekerja serabutan sambil menunggu musim kembali memungkinkan untuk bercocok tanam.

“Memang kondisi ekonomi sedang sulit. Warga tidak mau berjudi dengan musim yang tidak pasti. Banyak petani yang akhirnya beralih menjadi pekerja serabutan,” pungkas Ali. (ris).