Hadapi Kemarau Panjang, PMI Kabupaten Tegal Distribusi Air Bersih hingga November
Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Tegal menargetkan distribusi bantuan air bersih bagi warga terdampak kekeringan hingga November 2026. Hal ini seiring prediksi musim kemarau yang lebih panjang.
HARIANRAKYAT.iD, TEGAL — Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Tegal menargetkan penyaluran bantuan air bersih bagi warga terdampak kekeringan hingga November 2026. Distribusi sejak April akan terus dilakukan sesuai kebutuhan di lapangan seiring prediksi musim kemarau yang lebih panjang.
Kepala Seksi Pelayanan Masyarakat dan Penanggulangan Bencana(Kasie Yanmas PB) PMI Kabupaten Tegal, Latifah, mengatakan krisis air bersih tahun ini cukup meluas dan dirasakan warga di berbagai wilayah.
"Peta distribusi air bersih kami awali dari bulan April, Mei, Juni, hingga Juli ini. Berdasarkan rapat koordinasi dengan BPBD, musim kemarau kali ini diperkirakan cukup panjang, sehingga target operasi kekeringan ini diproyeksikan bertahan hingga maksimal bulan November," ujar Latifah saat ditemui di Posko PMI Kabupaten Tegal, Kamis (23/7/2026).
Hingga saat ini, PMI Kabupaten Tegal mencatat bantuan air bersih telah menjangkau 10 desa, tersebar di enam kecamatan. Wilayah terdampak tersebut meliputi Desa Padasari, Dukuhbangsa, Harjosari, Wotgalih dan Lembahsari di Kecamatan Jatinegara. Termasuk sejumlah desa di Kecamatan Kedungbanteng, Kecamatan Warureja dan Kecamatan Bumijawa serta Desa Capar.
Menurut Latifah, kekeringan tahun ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya keberadaan pengungsi di Hunian Sementara (Huntara) Desa Padasari akibat bencana tanah bergerak, pencemaran sumber air akibat longsor di kawasan Guci, alih fungsi lahan yang mengurangi daerah resapan, serta mengeringnya Bendungan Cacaban.
Untuk memastikan bantuan tepat sasaran, PMI mewajibkan adanya surat permohonan resmi dari pemerintah desa.
"Kami minta masyarakat melengkapi permohonan dengan surat resmi dari pemerintah desa. Ini penting untuk tertib administrasi dan memastikan data di lapangan akurat. Jangan sampai warga berteriak butuh air, tetapi pihak desa merasa tidak bersurat atau tidak tahu," jelas Latifah.
Ia menambahkan, PMI terus berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal dalam menyusun jadwal distribusi dan memetakan wilayah yang membutuhkan bantuan.
Meski armada tangki PMI mampu mengangkut 4.000 liter air dalam sekali pengiriman, kapasitas tersebut masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat di sejumlah wilayah. Karena itu, distribusi dilakukan secara bergiliran agar bantuan dapat menjangkau seluruh wilayah terdampak.
PMI juga mengimbau masyarakat agar lebih bijak menggunakan air bersih.
"Kami mengimbau warga untuk lebih bijak menggunakan air. Sebisa mungkin air bekas wudu atau air cucian beras dapat dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman atau keperluan lainnya. Mari kita gunakan air secara hemat, cermat, dan tepat," pungkasnya. (Cr01).