back to top
BerandaTangerang RayaDialog Kerukunan FKUB Tangsel: Menyulam Harmoni dari Sejarah dan Harapan Generasi Muda

Dialog Kerukunan FKUB Tangsel: Menyulam Harmoni dari Sejarah dan Harapan Generasi Muda

HARIANRAKYAT.ID, TANGSEL— Memperingati Hari Ulang Tahun ke-17 Kota Tangsel, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Tangsel, menggelar dialog. Dengan tajuk “Maju, Tumbuh, Berkarya Dalam Kebhinekaan Menuju Tangsel yang Berdigdaya” di Rumah Makan Remaja Kuring, BSD, Serpong, Rabu (19/11/2025).

Rangkaian kegiatan diawali pembacaan Basmalah oleh Dr. Edi Amin, kemudian dilanjut pembacaan doa dipimpin Elang Bakhrudin.

Ketua Panitia, Heriyanto, dalam laporannya mengapresiasi antusiasme sekitar 150 peserta dari berbagai unsur masyarakat. Ia menekankan bahwa momentum ini bukan sekadar pertemuan.

“Ini adalah ruang reflektif yang memperkuat toleransi dan kebersamaan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ketua FKUB Tangsel, KH. Ahmad Sofyan, dalam kesempatan itu mengutip pesan ulama klasik “Man katsura ‘ilmuhu ittasa‘a shodruhu wa shona lisanahu, wa man qalla ‘ilmuhu dhoqo shodruhu wa athlaqo lisanahu.”

“Artinya, semakin luas ilmu seseorang, semakin lapang dadanya dan terjaga tutur katanya. Sebaliknya, kurangnya ilmu membuat hati sempit dan lisan mudah terpeleset. Pesan ini menjadi benang merah dialog, bahwa ilmu dan wawasan adalah pondasi penting dalam membangun kerukunan terutama di kota yang heterogen seperti Tangsel,” pesannya.

Dialog-Para peserta tengah menyimak para narasumber saat dialog berlangsung.

Kepala Seksi Bimas Kemenag Tangsel, Dr. KH. Edi Suharsongko, turut memberikan apresiasi atas konsistensi FKUB menghadirkan ruang komunikasi lintas iman.

“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat dalam merawat hubungan harmonis di tengah masyarakat,” ujarnya.

Dalam sesi dialog dipandu Dr. Masruri yang membuka diskusi dengan pantun serta penekanan, bahwa kekuatan justru lahir dari perbedaan.

Hadir sebagai narasumber, Ketua FKUB Provinsi Banten, Dr. KH. A.M. Romly, mengingatkan bahwa kerukunan di Indonesia merupakan warisan dari perjalanan sejarah panjang.

“Indonesia ini bukan hanya kaya rempah, tapi juga kaya harapan. Negeri ini didambakan banyak bangsa. Karena itu, jangan berhenti hanya karena belum mampu melakukan semuanya. Mulailah dengan bertahap,” pesannya.

Sedangkan narasumber kedua, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, Irfan Abubakar, menyoroti peran strategis generasi muda dalam merawat kerukunan. Ia mendorong FKUB membuka ruang lebih luas bagi pemuda agar mampu mengekspresikan diri dalam kegiatan lintas agama.

“Cari persoalan yang dihadapi anak muda di masyarakat, lalu olah secara kreatif menjadi solusi dan peluang kerja,” tegasnya.

Menurutnya, tantangan sosial yang dihadapi generasi muda harus diperlakukan seperti potensi alam harus digali, diolah dan dimanfaatkan. Dengan begitu, pemuda tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi pencipta peluang melalui kreativitas dan inovasi.

Dialog ini menegaskan bahwa kerukunan bukan hanya soal toleransi, tetapi soal keberdayaan. Ketika sejarah dipahami sebagai pijakan dan generasi muda diberi ruang untuk tumbuh. Maka, kerukunan akan menjadi kekuatan yang berdigdaya. Bukan hanya simbol, tetapi pondasi masa depan yang inklusif dan berkelanjutan. (din).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Komentar Terbaru
Must Read
Related News