Prof. Ahmad Tholabi Kharlie Dorong Santri Menjadi Pelopor Green Leadership Berbasis Nilai-Nilai Islam
Prof. Ahmad Tholabi Kharlie mendorong santri menjadi pelopor green leadership berbasis nilai Islam dalam pembekalan LDK Santri 2026 di Talaga Cikeas.
HARIANRAKYAT.ID, Talaga Cikeas, 29 Juli 2026 – Krisis iklim, pencemaran lingkungan, serta perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat menuntut lahirnya model kepemimpinan baru yang berakar pada nilai-nilai keagamaan. Hal tersebut menjadi pesan utama yang disampaikan Prof. Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie dalam sesi pembekalan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Santri Tahun 2026 yang diselenggarakan Direktorat Pesantren Kementerian Agama RI.
Pelatihan ini diikuti oleh santri-santri terbaik dari berbagai pesantren di seluruh Indonesia sebagai bagian dari upaya menyiapkan kader pemimpin muda yang memiliki wawasan kebangsaan, karakter kuat, serta kepedulian terhadap isu-isu keberlanjutan lingkungan.
Mengangkat tema "Santri Penggerak Perubahan: Dari Ekoteologi Menuju Green Leadership", Ahmad Tholabi menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam. Menurutnya, bumi bukan sekadar ruang hidup manusia, tetapi amanah yang harus dijaga sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT.
"Green Leadership bukan aktivitas simbolik. Menjaga bumi merupakan bagian dari ibadah yang harus diwujudkan melalui kebiasaan sehari-hari," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pesantren memiliki modal sosial yang sangat besar untuk menggerakkan perubahan ekologis. Kehidupan kolektif yang dibangun melalui budaya gotong royong, kedisiplinan, kesederhanaan, serta penghormatan kepada sesama menjadikan pesantren sebagai ruang yang ideal untuk membangun budaya ramah lingkungan secara berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Tholabi mengajak para santri untuk mengubah pola pikir dari sekadar mengenali persoalan menjadi pribadi yang mampu menghadirkan solusi. Persoalan sampah, penggunaan air, konsumsi energi, maupun literasi digital dapat dimulai dari tindakan sederhana di lingkungan pesantren sebelum berkembang menjadi gerakan sosial yang lebih luas.
Menurutnya, pemimpin sejati bukanlah mereka yang menunggu perubahan, tetapi yang memulai perubahan dari persoalan paling dekat dengan kehidupannya. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten akan melahirkan budaya baru yang mampu menggerakkan komunitas.
Di akhir paparannya, Ahmad Tholabi berharap para peserta mampu membawa semangat Green Leadership kembali ke pesantren masing-masing sehingga lahir gerakan-gerakan nyata yang mengintegrasikan nilai agama, teknologi, dan pelestarian lingkungan sebagai fondasi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan. (*).