Perang dan Ancaman Krisis Energi bagi Indonesia
\nOleh: Yakub F. Ismail\n\n\n\nEskalasi konflik antara Iran menghadapi koalisi Amerika Serikat (AS)–Israel terus meningkat di Timur Tengah.\n\n\n\nPerang yang kini sudah memasuki hari ke-13 itu bahkan belum me...
Yakub F. Ismail
\n\n\n\nEskalasi konflik antara Iran menghadapi koalisi Amerika Serikat (AS)–Israel terus meningkat di Timur Tengah.
\n\n\n\nPerang yang kini sudah memasuki hari ke-13 itu bahkan belum menunjukkan tanda-tanda bakal segera berakhir.
Sementara itu, di saat bersamaan dampak dari perang tersebut begitu nyata dan luar biasa terhadap perekonomian global.
\n\n\n\nDampak perang juga begitu terasa bagi ketahanan energi sebuah bangsa, utamanya Indonesia. Diakui ataupun tidak, perang yang terjadi ini bukan sekadar konflik regional, melainkan terlah menyentuh nadi perekonomian dunia karena kawasan tersebut menjadi jalur utama perdagangan migas internasional.
\n\n\n\nSetiap ancaman blokade di kawasan Teluk berpotensi memicu gelombang krisis energi dunia, dari kenaikan harga minyak mentah hingga terganggunya distribusi LNG global.
\n\n\n\nIndonesia sendiri yang menggantungkan kebutuhan energi nasional pada impor tidak kebal dari dampak krisis energi global ini.
\n\n\n\nAlhasil, ancaman krisis energi dunia dapat menyeret ekonomi nasional pada tekanan yang amat serius seperti melonjaknya biaya produksi, inflasi, hingga berkurangnya daya saing industri.
\n\n\n\nDi tengah ketidakpastian ini, tentu sangat dibutuhkan pemahaman yang komprehensif tentang dampak negatif dan risiko yang mengintai keamanan nasional (national security).
\n\n\n\nKarena itu, diperlukan langkah antisipatif demi menjaga ketahanan energi dan stabilitas ekonomi nasional tetap kokoh di tengah perang ini.
\n\n\n\nAncaman Perdamaian Dunia
\n\n\n\nBanyak yang memprediksi perang di kawasan Teluk ini bakal memicu konflik global yang semakin meluas.
\n\n\n\nHal ini dikarenakan pihak-pihak yang terlibat dalam perang merupakan negara dengan blok aliansi masing-masing.
\n\n\n\nAS-Israel merupakan kubu yang mewakili dominasi Barat yang dalam hal ini didukung sebagian besar negara-negara Eropa dan sekutunya.
\n\n\n\nSementara, di sisi lain, Iran merupakan salah satu negara di kawasan Timteng yang mempunyai dukungan kuat dari Rusia, China, dan Korea Utara.
\n\n\n\nKedua kubu memiliki kekuatan yang sama-sama kuat dan destruktif sehingga potensi kerusakan global akan kian dahsyat andai konflik terus meluas dan melibatkan negara-negara aliansi.
\n\n\n\nPerang yang terjadi semakin memperburuk polarisasi global dan memicu blok-blok geopolitik baru, dan menimbulkan ancaman serius bagi jalur-jalur perdagangan strategis.
\n\n\n\nKita ketahui bahwa Selat Hormuz merupakan salah satu titik paling sensitif karena selama ini menjadi jalur pengiriman sekitar 20% pasokan minyak dunia.
\n\n\n\nGangguan di kawasan ini secara otomatis bakal mengguncang kestabilan pasokan energi global dan memicu kepanikan pasar global, disebabkan kenaikan harga energi secara drastis.
\n\n\n\nKonflik berkepanjangan sudah tentu bakal menimbulkan krisis kemanusiaan yang berdampak serius bagi negara-negara di dunia, mulai dari masalah pengungsi, kelangkaan bantuan, dan ketidakpastian politik.
\n\n\n\nDengan demikian, perang Iran vs AS–Israel ini harus segera diakhir demi menghindari ancaman yang jauh lebih serius bagi perdamaian global, baik dari sisi geopolitik, ekonomi, maupun kemanusiaan.
\n\n\n\nKrisis Energi dalam Negeri
\n\n\n\nIndonesia termasuk salah satu negara yang masih mengandalkan impor minyak dan LPG, sehingga membuatnya sangat rentan terhadap dampak perang di kawasan Timur Tengah.
\n\n\n\nGangguan pada jalur distribusi global, teristimewa di kawasan sekitar Teluk Oman, dengan demikian memicu kelangkaan pasokan dan lonjakan harga.
\n\n\n\nKondisi ini secara tidak langsung membawa dampak terhadap kenaikan harga minyak mentah dunia yang otomatis menekan APBN dikarenakan subsidi energi membengkak.
\n\n\n\nSituasi ini membuat pemerintah dilema untuk memilih antara menambah beban fiskal atau menaikkan harga BBM. Keduanya sama-sama membawa konsekuensi politik dan ekonomi yang cukup riskan.
\n\n\n\nSementara, di sektor usaha, krisis energi global diprediksi bakal menimbulkan kenaikan biaya produksi, khususnya bagi industri berbasis energi intensif seperti industri baja, petrokimia, semen, hingga manufaktur.
\n\n\n\nImplikasi negatif juga bakal melanda sektor UMKM karena tingginya biaya logistik dan kenaikan harga bahan bakar.
\n\n\n\nDalam rumus sederhana, ketika biaya operasional meningkat, maka daya saing produk nasional akan menurun. Sementara, dalam situasi bersamaan inflasi akan menekan daya beli masyarakat.
\n\n\n\nHal yang tidak bisa dicegah berikutnya ketika krisis energi ini semakin parah adalah ancaman nayata bagi ketahanan nasional.
\n\n\n\nBukan rahasia lagi bahwa kelangkaan energi dapat memicu kerawanan sosial karena terjadi instabilitas sosial.
\n\n\n\nJurang ketimpangan akan semakin menganga yang akan memperlambat pemulihan ekonomi. Jika kondisi ini berlangsung lama, maka ketergantungan terhadap impor energi dapat menjadi kelemahan strategis yang dimanfaatkan oleh negara lain dalam dinamika geopolitik.
\n\n\n\nLangkah untuk mengantisipasi ancaman ini harus diambil sedini mungkin sebelum semuanya terlambat. Indonesia wajib memperkuat diversifikasi energi secepat mungkin, bisa dengan cara pengembangan energi surya, angin, panas bumi, biofuel.
\n\n\n\nHal itu diambil sebagai langkah solutif mengurangi ketergantungan pada impor energi. Termasuk, peningkatan kapasitas kilang nasional, digitalisasi distribusi energi, serta pembangunan cadangan strategis minyak untuk kepentingan strategis jangka menengah dan panjang.
\n\n\n\nPenulis Adalah Ketua Umum Ikatan Media Online (IMO) Indonesia
\n