Pamulang Timur Bangun 1.140 Biopori, Upaya Kurangi Sampah dan Tingkatkan Resapan Air
Kelurahan Pamulang Timur menargetkan pembangunan 1.140 lubang biopori di 99 RT. Langkah ini sebagai solusi pengelolaan sampah organik dan peningkatan resapan air
HARIANRAKYAT.ID, KOTA TANGSEL – Kelurahan Pamulang Timur, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, tengah mempersiapkan program pembangunan lubang biopori dalam skala masif. Sebanyak 1.140 titik akan dibangun dan tersebar di 99 RT sebagai bagian dari strategi pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.
Lurah Pamulang Timur, Ade Heri Sutiawan, menjelaskan bahwa tahap awal yang sedang berjalan adalah pemasangan perangkat biopori menggunakan paralon sepanjang satu meter dengan diameter enam inci. Penentuan lokasi dilakukan melalui koordinasi bersama pengurus lingkungan agar tepat sasaran dan sesuai kebutuhan wilayah.
“Pendekatan partisipatif dilakukan melalui rapat bersama pengurus lingkungan. Hal ini penting untuk memastikan titik biopori berada pada area yang memiliki daya serap optimal, yang mana datanya itu berasal dari usulan masyarakat,” ujar Ade Heri, Jumat (26/6/2026).
Program ini merupakan implementasi kebijakan terintegrasi Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) di bawah kepemimpinan Wali Kota Benyamin Davnie, yang mewajibkan setiap kelurahan mengembangkan sistem biopori sebagai solusi ekologis.
"Program ini mendapat respons positif dari masyarakat, khususnya pengurus lingkungan perumahan. Tingginya volume sampah rumah tangga selama ini menjadi tantangan utama, sehingga kehadiran biopori dinilai mampu menjadi alternatif pengelolaan sampah organik langsung dari sumbernya," tambah ia.
Sambungnya, lubang biopori memiliki dua fungsi utama, yakni meningkatkan resapan air tanah guna mencegah kekeringan. Mempercepat dekomposisi sampah organik seperti sisa makanan dan sayuran.
"Oleh sebab itu penempatan biopori difokuskan pada area dengan kesuburan tinggi, seperti di bawah tegakan pohon, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas vegetasi," bebernya.
Secara teknis, pengerjaan 1.140 titik biopori ditargetkan rampung dalam waktu dua bulan dimulai Juli hingga Agustus dengan melibatkan 20 hingga 30 tenaga kerja dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (desil satu hingga lima).
"Setiap pekerja memperoleh upah Rp90 ribu per hari dengan kapasitas produksi sekitar 10 lubang biopori per hari menggunakan peralatan mesin yang didukung partisipasi warga," ia merinci.
Dalam hitungan kapasitas, satu lubang biopori mampu menampung sekitar 500 gram sampah organik. Dengan total 1.140 titik, potensi reduksi sampah mencapai sekitar 570 kilogram per hari. Sementara itu, total produksi sampah rumah tangga di Pamulang Timur mencapai 12.000 kilogram atau setara 12 ton per hari dari sekitar 12 ribu kepala keluarga.
Dengan demikian, implementasi biopori diharapkan mampu mengurangi beban sampah dari hulu, terutama limbah organik rumah tangga, sehingga tekanan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang dapat diminimalkan.
“Pendekatan ini diharapkan menjadi solusi berkelanjutan dalam pengelolaan sampah, sekaligus mengurangi risiko overkapasitas di TPA,” pungkasnya. (din).