Kekeringan Melanda Keranggan, PMI Tangsel Distribusikan 4.000 Liter Air Bersih per Hari
Kekeringan melanda Kampung Keranggan, Setu, Tangerang Selatan sejak pertengahan Juli 2026. PMI Tangsel menyalurkan sekitar 4.000 liter air bersih per hari untuk 25 kepala keluarga atau 74 jiwa
HARIANRAKYAT.ID, TANGSEL — Kekeringan dirasakan warga Kampung Keranggan RT 12-RW 05, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Sejak pertengahan Juli 2026, warga setempat mulai kesulitan mendapatkan air bersih.
Sarpras Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tangsel, Sutikno Yusuf alias Mang Zbenk, mengatakan kondisi geografis di RT 12 membuat kendaraan tangki berukuran besar tidak bisa masuk ke lokasi. Karena itu, PMI Tangsel menggunakan mobil pickup yang dilengkapi toren berkapasitas 1.000 liter untuk mengangkut air bersih ke lokasi warga.
"Untuk RT 12-RW 05 memang tidak bisa masuk mobil tangki besar. Makanya kita menggunakan mobil pickup PMI Tangsel dengan kapasitas toren 1.000 liter," kata Sutikno.
Bukan tanpa kendala. Dalam proses pendistribusian, kendaraan PMI Tangsel bahkan sempat terperosok akibat kondisi jalan yang sempit dan sulit dilalui kendaraan. Berbagai upaya pun dilakukan petugas agar distribusi air tetap berjalan. Salah satunya dengan mengosongkan terlebih dahulu tangki air yang dibawa kendaraan, kemudian melakukan upaya pengangkatan kendaraan agar bisa kembali bergerak.
"Mobil ini dikosongkan terlebih dahulu airnya, baru kita upayakan pengangkatan. Karena jalannya sempit, kendaraan tidak bisa leluasa bergerak," ujarnya.
Menurutnya, distribusi air dilakukan secara bertahap. Dalam sehari, PMI Tangsel menyalurkan sekitar 4.000 liter air bersih ke wilayah tersebut.
Air kemudian ditampung di dua toren yang masing-masing memiliki kapasitas 2.000 liter. Sementara kapasitas toren pada kendaraan PMI hanya 1.000 liter, sehingga pengisian harus dilakukan beberapa kali.
"Sehari sekitar 4.000 liter yang kita distribusikan. Karena kapasitas toren di mobil 1.000 liter, pengangkutannya memang harus beberapa kali," jelasnya.
Sutikno menjelaskan, kondisi kekeringan di wilayah Keranggan mulai terjadi sejak pertengahan Juli. Jika musim kemarau terus berlangsung hingga pertengahan Agustus, wilayah terdampak diperkirakan dapat semakin meluas.
Karena itu, PMI Tangsel meminta jajaran kelurahan dan kecamatan lebih aktif memantau wilayah yang mulai mengalami kesulitan air bersih.
"Untuk sementara imbauan dari PMI lebih kepada pihak kelurahan dan kecamatan agar lebih sering memantau wilayahnya," katanya.
Sutikno juga menekankan pentingnya kecepatan dalam merespons kebutuhan air bersih masyarakat. Menurut dia, persoalan administrasi jangan sampai membuat bantuan air terlambat sampai kepada warga.
"Kalau ada pengajuan air bersih, jangan sampai terhambat surat-menyurat. Dahulukan airnya, surat bisa menyusul," tegasnya.
Ia berharap koordinasi antara masyarakat, kelurahan, kecamatan, BPBD, dan PMI dapat terus diperkuat. Dengan begitu, distribusi air bersih bisa segera dilakukan ketika warga mulai mengalami krisis air.
Bagi warga Keranggan, air bersih bukan sekadar bantuan. Di tengah kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, air menjadi kebutuhan dasar yang harus segera dipenuhi. (din).