News and Education Versi penuh
Tangerang Raya

Masyarakat Pisangan Antusias Dukung Pembuatan Biopori, Hingga Akhir Tahun Ditarget Capai 1.100 Titik

Kelurahan Pisangan, Tangsel, mempercepat pembuatan 1.100 lubang biopori untuk mengatasi sampah berbasis masyarakat.

Oleh Adm 25 Jun 2026 19:31 2 menit baca

HARIANRAKYAT.ID, TANGSEL — Kelurahan Pisangan, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, (Tangsel) mempercepat implementasi program lubang resapan biopori sebagai strategi pengendalian sampah berbasis masyarakat. Hingga pekan kedua pelaksanaan, sebanyak 172 titik biopori telah terealisasi dari target 1.100 lubang yang dicanangkan rampung pada akhir 2026.

Lurah Pisangan, Martyasto Adhi Hadanto, S.STP., M.Tr.IP., menegaskan bahwa program ini merupakan tindak lanjut instruksi Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, dalam merespons persoalan sampah yang kian kompleks di wilayah perkotaan.

“Dalam waktu satu minggu setengah, kami sudah mencapai 172 titik. Ini bentuk komitmen percepatan di tingkat kelurahan,” ujar Martyasto, Kamis (25/6/2026).

Menurutnya, distribusi titik biopori tersebar di seluruh RT berdasarkan usulan warga. Lokasi pengerjaan mayoritas berada di pekarangan rumah, dengan karakteristik tanah liat yang dinilai ideal untuk mendukung proses infiltrasi air sekaligus pengomposan sampah organik.

“Basisnya adalah partisipasi warga. Permintaan datang dari masyarakat, sehingga implementasi berada langsung di lingkungan hunian mereka,” jelasnya.

Dari aspek teknis, pengerjaan melibatkan tenaga khusus sebanyak 4 hingga 6 orang per hari dengan kapasitas produksi 18 hingga 20 lubang. Satu titik lubang biopori membutuhkan waktu tiga puluh menit. Bahkan, capaian tertinggi dalam satu hari mencapai 23 titik.

“Spesifikasi lubang memiliki kedalaman satu meter dan diameter enam inci, menggunakan peralatan khusus agar efisien dan tidak terlalu membebani tenaga,” paparnya.

Martyasto juga mengungkapkan bahwa kondisi tanah menjadi faktor penting dalam efektivitas biopori. Untuk tanah urukan atau berbatu, diperlukan perlakuan tambahan berupa cairan dekomposer guna mengoptimalkan proses penguraian.

“Tanah liat memiliki kandungan bakteri alami yang baik. Namun untuk tanah urukan, perlu intervensi agar tetap efektif,” tambahnya.

Partisipasi masyarakat dinilai cukup tinggi, bahkan warga turut membantu dalam proses pengerjaan. Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran kolektif terhadap pengelolaan sampah berbasis sumber.

Ke depan, pihaknya berharap dukungan pemerintah dapat diperkuat, khususnya dalam penyediaan fasilitas pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Selain itu, edukasi pemilahan sampah organik dan anorganik menjadi kunci keberlanjutan program.

“Kesadaran individu dalam memilah sampah adalah fondasi utama. Jika ini berjalan, maka beban pengelolaan di hilir dapat ditekan secara signifikan,” pungkasnya. (din).

Topik terkait
biopori tangsel kelurahan pisangan benyamin davnie pengelolaan sampah ciputat timur program lingkungan sampah organik inovasi daerah