DLH Tangsel Edukasi Siswa SMPN 22 Lewat Gerakan Sejuta Biopori
DLH Kota Tangerang Selatan memberikan edukasi Gerakan Sejuta Biopori kepada siswa SMP Negeri 22 Tangsel. Sebanyak 10 lubang biopori dibuat di lingkungan sekolah sebagai upaya mengurangi sampah organik, meningkatkan resapan air dan mencegah genangan.
TANGSEL – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus mendorong kepedulian generasi muda terhadap lingkungan melalui Gerakan Sejuta Biopori.
Edukasi mengenai manfaat dan cara pembuatan lubang biopori diberikan kepada siswa SMP Negeri 22 Kota Tangerang Selatan, Rabu (20/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 10 lubang biopori turut dibuat di lingkungan sekolah.
Kepala Seksi Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Kota Tangsel, Elsandy Adha Mukhti, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari aksi nyata untuk mendukung program prioritas kepala daerah, yakni Gerakan Sejuta Biopori.
Menurutnya, sosialisasi tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi. Para siswa juga perlu dilibatkan secara langsung agar memahami pentingnya menjaga lingkungan.
“Dalam rangka mendukung program prioritas kepala daerah, yaitu Gerakan Sejuta Biopori, maka perlu dilakukan aksi nyata seperti hari ini melalui sosialisasi dan aksi lingkungan di SMP Negeri 22 Tangerang Selatan,” ujar Elsandy di hadapan para siswa.
Ia menjelaskan, gerakan ini memiliki sejumlah manfaat, mulai dari mengurangi volume sampah organik rumah tangga, meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air hujan, mencegah genangan dan banjir, hingga membantu menyuburkan tanah.
“Tentu tujuan dan manfaat Gerakan Sejuta Biopori sangat banyak manfaat yang dapat dirasakan untuk lingkungan sekitar,” tambah ia.
Elsandy menceritakan persoalan sampah yang sempat terjadi di Kota Tangsel beberapa waktu lalu. Sampah menumpuk di berbagai sudut kota dan lingkungan warga, akibat kapasitas pembuangan di Cipeucang tidak menampung.
Tentu kondisi itu, menjadi pengingat pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengurangi sampah sejak dari sumbernya.
“Oleh karena itu, sangat diharapkan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan dimulai dari diri sendiri. Bagaimana kita dapat mengolah sampah supaya dapat ditekan, salah satunya dengan memilah sampah organik dan anorganik,” bebernya.
Sementara itu, Kepala UPTD SMP Negeri 22 Kota Tangerang Selatan, Susanti Ekapriyanti, mengapresiasi langkah DLH yang memberikan edukasi sekaligus praktik langsung kepada para siswa.
Menurutnya, keberadaan biopori di lingkungan sekolah diharapkan tidak hanya membantu mengurangi sampah organik, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi siswa.
“Sekolah membentuk karakter lewat belajar di kelas. Namun bukan hanya itu, tapi bagaimana siswa dapat belajar mengatasi banyak masalah, salah satunya sampah,” ucap Susanti.
Dalam sesi pemaparan, para siswa juga mendapatkan penjelasan mengenai konsep biopori yang diperkenalkan oleh guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB). Konsep tersebut mengadopsi prinsip pori-pori pada tubuh manusia yang memungkinkan terjadinya pertukaran udara dan keluarnya keringat.
Lubang biopori dibuat menggunakan paralon yang diberi lubang-lubang di bagian sekelilingnya. Kemudian ditanam di dalam tanah dan diisi dengan sampah organik.
Sampah organik yang berada di dalam lubang akan mengundang organisme tanah untuk datang dan diurai. Proses tersebut menghasilkan material yang dapat menjadi kompos sekaligus membantu menyuburkan tanah.
Selain mengolah sampah organik, lubang biopori juga berfungsi sebagai resapan air. Air hujan yang masuk ke dalam lubang dapat meresap ke tanah secara lebih optimal.
Dengan demikian, keberadaan biopori di lingkungan sekolah diharapkan dapat membantu mengurangi potensi genangan saat musim penghujan sekaligus membangun kebiasaan siswa untuk lebih peduli terhadap persoalan sampah dan lingkungan. (adv).