News and Education Versi penuh
Tangerang Raya

Perspektif MUI Tangsel pada Momentum 1 Muharram 1448 H, Begini Penjelasannya!

Peringatan 1 Muharram 1448 H oleh MUI Tangsel di Masjid Jami Daarul Hikmah berlangsung khidmat melalui dzikir, doa, santunan yatim, dan tausiyah. Kegiatan ini menekankan makna hijrah sebagai perubahan menuju kebaikan serta pentingnya muhasabah untuk memperbaiki diri dan menatap masa depan dengan optimisme dan keimanan kepada Allah SWT.

Oleh Adm 16 Jun 2026 10:00 3 menit baca

HARIANRAKYAT.id, TANGSEL-Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah diselenggarakan MUI Kota Tangsel berlangsung penuh kekhidmat dengan nuansa spiritual sangat kuat. Berlangsung di Masjid Jami Daarul Hikmah, Pamulang, Senin (15/6/2026) tadi malam.

Rangkaian acara diawali dengan dzikir dan doa dipimpin  KH Hasan Mustofi. Praktik dzikir kolektif ini merefleksikan dimensi tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Cara ini sebagai pondasi dalam menyambut tahun baru Hijriah. Dalam konteks ini, dzikir dan doa menjadi instrumen spiritual untuk memperkuat kesadaran ketuhanan, sekaligus membangun kesiapan mental menuju perubahan yang lebih baik.

Usai dzikir dan doa, dilanjut dengan menyantuni  anak yatim. Simbol ini sebagai manifestasi nilai-nilai sosial dalam ajaran Islam. Penyaluran santunan dilakukan Ketua Umum MUI Kota Tangerang Selatan KH Saidih, diikuti Sekretaris Umum MUI Dr. H. Abdul Rojak, serta Komisioner Baznas Kota Tangsel Ustaz Taufik Setyaudin. 


Dalam sesi edukatif, panitia menyelenggarakan kuis interaktif yang mengangkat tema sejarah penetapan kalender Hijriah. KH Hasan Mustofi menjelaskan bahwa sistem penanggalan Hijriah ditetapkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Tentunya  dengan menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai titik awal perhitungan waktu. 

Penetapan bulan Muharram sebagai awal tahun memiliki landasan teologis dan historis, mengingat Muharram termasuk dalam bulan-bulan yang dimuliakan. Sekaligus memiliki relevansi dengan momentum hijrah sebagai transformasi peradaban Islam.


Sekretaris MUI Kota Tangsel Dr. Abdul Rojak menegaskan bahwa hijrah tidak boleh dimaknai secara sempit sebagai perpindahan fisik semata. Melainkan sebagai proses transformasi multidimensional. Hijrah mencakup perubahan perilaku, peningkatan kapasitas intelektual, serta penguatan etos kerja dan inovasi.

"Tentu konsep hijrah relevan untuk diaplikasikan dalam kehidupan modern, seperti perubahan dari sikap pasif menuju produktif, dari keterbelakangan menuju kemajuan ilmu pengetahuan, serta dari stagnasi menuju dinamika yang konstruktif," ujar ulama yang memiliki pandangan pemikiran keislaman kontemporer asal Cilenggang, Serpong Kota Tangsel itu.

Sementara itu, dalam tausiyahnya, Ustaz Sopyan Mastas, S.Pd., menekankan pentingnya orientasi masa depan  dalam menyambut Tahun Baru Islam. Ia mengkritisi kecenderungan sebagian individu yang terjebak dalam romantisme masa lalu secara berlebihan. Hal itu justru berpotensi melahirkan kecemasan dan stagnasi psikologis.

"Islam mendorong umatnya untuk mengedepankan sikap optimisme dan prasangka baik kepada Allah, sebagai bagian dari konstruksi keimanan yang sehat," pesannya.


Kendati demikian, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Tangsel itu  menegaskan bahwa refleksi terhadap masa lalu tetap diperlukan dalam kerangka evaluasi guna mengidentifikasi kelemahan dan meningkatkan kualitas amal di masa yang akan datang.

"Dengan demikian, peringatan 1 Muharram tidak hanya memiliki makna seremonial, tetapi juga menjadi momentum strategis untuk melakukan rekonstruksi diri secara spiritual, intelektual, dan sosial. Muhasabah sebagai instrumen refleksi menjadi kunci dalam membangun pribadi muslim yang lebih unggul, adaptif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat," tutup ustad humoris asal Pamulang Barat, Pamulang, Kota Tangsel. (din).

Topik terkait
Ketua Umum MUI Tangsel KH Saidih MUI Tangsel Tahun baru Islam 1 Muharram 1448H Refleksi