back to top
HARIANRAKYAT.ID Mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1447 - 2025
HARIANRAKYAT.ID Mengucapkan Selamat Natal 25 Desember 2025 - dan Tahun Baru 2026 2025
BerandaDaerahADP UIN Walisongo Bahas Disrupsi Digital dan Otoritas Keagamaan

ADP UIN Walisongo Bahas Disrupsi Digital dan Otoritas Keagamaan

HARIANRAKYAT.ID, Semarang, 25 April 2026 — Asosiasi Dosen Pergerakan Indonesia (ADP) bekerja sama dengan UIN Walisongo Semarang menggelar Seminar Nasional bertema “Mencandera Masa Depan Kehidupan Beragama di Era Transformasi Digital” di Ruang Teater, Gedung Rektorat Lantai 4 Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Sabtu (25/4).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian agenda nasional ADP yang berlangsung selama tiga hari, 24–26 April 2026.

Seminar ini menjadi forum strategis yang mempertemukan refleksi akademik, tanggung jawab intelektual, dan komitmen kebangsaan dalam merespons dinamika keberagamaan kontemporer yang semakin kompleks akibat transformasi digital. Tema yang diangkat mencerminkan kesadaran bahwa perubahan teknologi tidak hanya memengaruhi cara berkomunikasi, tetapi juga cara berpikir, berinteraksi, dan memahami agama di ruang publik.

Ketua Umum ADP, Abdurrahman Mas’ud, dalam sambutannya menegaskan bahwa era digital telah mengubah lanskap keberagamaan secara mendasar. Menurutnya, agama kini hadir dalam ruang yang semakin luas, tetapi juga berada dalam arus penyederhanaan, politisasi, dan pertarungan wacana yang semakin intens.

“Transformasi digital bukan hanya perubahan teknologi, tetapi juga perubahan cara berpikir dan berinteraksi. Dalam kondisi ini, otoritas keagamaan menjadi semakin terbuka, tetapi juga rentan terhadap distorsi,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa Semarang memiliki posisi strategis dalam perjalanan organisasi ADP.

“Semarang memiliki peran yang cukup besar dalam menyiapkan agenda penting ADP, mulai dari launching buku hingga persiapan musyawarah nasional. Kami berencana menyelenggarakan Munas setelah Muktamar NU. Saya menyambut gembira kegiatan ini berlangsung di sini karena UIN Walisongo merupakan salah satu pusat penting perkembangan intelektualisme Islam. Dari sinilah kita juga menginisiasi kegiatan AICIS,” jelasnya.

Lebih lanjut, Abdurrahman Mas’ud menegaskan bahwa selama masa kepemimpinannya, ADP berupaya memperkuat kaderisasi dan peran intelektual dosen dalam ruang publik.

“Salah satu indikator keberhasilan organisasi adalah munculnya banyak calon ketua umum serta semakin banyak kader dosen PMII yang menempati posisi strategis,” tambahnya.

Kegiatan ini dihadiri oleh peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, antara lain Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Jakarta, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur, UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan, UINSI Samarinda, Universitas Kristen Satya Wacana, serta berbagai perguruan tinggi lainnya. Kehadiran peserta lintas kampus ini menunjukkan luasnya perhatian akademik terhadap isu keberagamaan di era digital.

Sementara itu, Rektor UIN Walisongo, Musahadi, dalam keynote speech menegaskan bahwa tema “mencandera” memiliki makna strategis dalam memahami perubahan zaman.

“Mencandera menjadi kata kunci penting karena terkait dengan kemampuan kita dalam memahami perubahan, menganalisisnya, sekaligus menentukan posisi kita di dalamnya. Transformasi digital pada dasarnya adalah tentang bagaimana kita merespons perubahan itu sendiri,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa transformasi digital ditopang oleh tiga pilar utama, yakni internet of things, big data, dan kecerdasan buatan, yang telah menghadirkan disrupsi di hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam praktik keberagamaan.

Musahadi juga memperkenalkan konsep “fikih prasmanan” sebagai fenomena baru dalam praktik keagamaan di era digital.

“Di dunia digital, siapa pun bisa berbicara tentang agama tanpa otoritas keilmuan yang jelas. Ini berbeda dengan tradisi keilmuan Islam yang berbasis pada isnad. Fenomena ini melahirkan apa yang saya sebut sebagai fikih prasmanan,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa dunia maya kini menjadi the new marketplace bagi pertarungan gagasan keagamaan.

“Karena itu, ADP dan para akademisi harus lebih intens hadir di ruang digital untuk menawarkan wacana keagamaan yang damai dan berorientasi pada rahmatan lil alamin. Tanpa itu, masyarakat bisa dengan mudah tersesat dalam arus informasi yang tidak terverifikasi,” tegasnya.

Seminar nasional ini menghadirkan sejumlah akademisi terkemuka seperti Prof. Dr. Akhmad Taufiq (Universitas Jember), Eko Ernada M.A. (UNU Kalimantar Timur), Prof. Dr. Aksin Wijaya (IAIN Ponorogo), Prof. Dr. Ida Umami (UIN Siwo Jurai), dan Prof. Dr. Syamsul Ma’arif (UIN Walisongo). Dalam dua sesi panel, para narasumber membahas isu-isu krusial seperti fragmentasi otoritas keagamaan, krisis literasi keagamaan digital, hingga pentingnya rekonstruksi pemikiran Islam berbasis keadilan, kesetaraan, dan keberlanjutan ekologis.

Diskusi dalam seminar berlangsung dinamis dan kritis, menegaskan bahwa perguruan tinggi dana kademisi memiliki peran penting dalam menghadirkan pemikiran yang jernih, moderat, dan berkeadaban. Seminar ini juga menghasilkan rumusan pemikiran sebagai rekomendasi strategis bagi penguatan kehidupan beragama di Indonesia.

Melalui kegiatan ini, ADP menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan kontribusi intelektual yang tidak hanya berhenti pada produksi pengetahuan, tetapi juga mampu menjawab persoalan riil masyarakat di tengah perubahan zaman yang semakin cepat. (*).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Komentar Terbaru
Must Read
Related News