HARIANRAKYAT.ID, KEDIRI – Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengusulkan pembangunan dua Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Desa Sekoto dan Desa Branggahan kepada Kementerian Pekerjaan Umum. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengatasi persoalan sampah yang volumenya terus meningkat setiap tahun.
Kepala DLH Kabupaten Kediri, Putut Agung Subekti mengatakan, pembangunan TPST menjadi kebutuhan mendesak mengingat kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sekoto diperkirakan rawan mengalami overload dalam beberapa tahun ke depan.
“Kondisi TPA Sekoto yang dilaunching pada Oktober 2021 umur teknisnya pada 2027 rawan overload sehingga harus ada penyiapan TPA lebih lanjut,” kata Putut, Senin (18/5/2026).
Berdasarkan data DLH Kabupaten Kediri, saat ini timbunan sampah yang mampu dikelola baru mencapai 58,18 persen per hari, sedangkan 40,82 persen lainnya masih belum tertangani secara optimal.
Di sisi lain, Kementerian Lingkungan Hidup juga telah melarang sistem pembuangan sampah terbuka atau open dumping karena dinilai berpotensi menyebabkan pencemaran dan kerusakan lingkungan.
Putut menjelaskan, konsep TPST yang diusulkan berbeda dengan TPA landfill konvensional. Nantinya, sampah akan diolah menggunakan teknologi ramah lingkungan untuk menghasilkan Refuse Derived Fuel (RDF) yang memiliki nilai ekonomi.
“Sekarang tidak lagi dikembangkan TPA landfill seperti yang sudah ada sebelumnya, jadi harus ada teknologi pengolahannya yang ramah lingkungan,” terangnya.
Untuk lokasi pembangunan, TPST Sekoto direncanakan berada di sebelah TPA Sekoto, Kecamatan Badas, dengan luas lahan sekitar 0,68 hektare. Sedangkan TPST Branggahan akan dibangun di Kecamatan Ngadiluwih dengan luas lahan sekitar 0,29 hektare.
Menanggapi kondisi pengelolaan sampah di Kabupaten Kediri, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menekankan pentingnya penanganan sampah dimulai dari tingkat hulu.
Mas Dhito meminta DLH untuk melakukan pemetaan serta audit timbunan sampah di setiap kecamatan, sekaligus mendorong desa-desa agar memiliki komitmen dalam pengelolaan sampah mandiri menuju zero waste.
“Kita harus sentuh hulunya dulu, cari 5-10 desa yang mau dan komitmen untuk zero waste,” pesan Mas Dhito. (lik).



