700 Biopori Diusulkan di Serua, Target 1.000 Titik Terkendala Lahan dan Upah Tukang
Program biopori di Kelurahan Serua, Ciputat, Kota Tangsel mencatat 700 titik usulan dari target 1.000 titik. Namun, pelaksanaannya masih terkendala validasi lokasi, terbatasnya lahan di kawasan permukiman padat, serta minimnya tenaga kerja akibat rendahnya upah.
HARIANRAKYAT.ID, TANGSEL — Program pembuatan lubang biopori di Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mulai menunjukkan perkembangan. Sebanyak 700 titik biopori telah diusulkan warga dari target 1.000 titik, sebagai upaya mengatasi persoalan sampah yang menjadi isu besar di Kota Tangsel.
Kasi Pemerintahan Kelurahan Serua, Dwi Aris, mengatakan sosialisasi program sudah dilakukan lebih dari satu bulan. Kelurahan telah meminta data kepada pengurus RW, lalu diteruskan ke RT untuk mendata warga yang bersedia ikut serta. Namun, baru dua RW yang menyerahkan data lokasi secara lengkap.
“Data sudah kami minta ke RW, lalu diteruskan ke RT. Tapi baru RW 5 dan RW 6 yang menyerahkan titik lokasi biopori,” ujarnya, Rabu (15/7/2026).
Selain menerima usulan, pihak kelurahan juga turun langsung ke lapangan untuk mengecek lokasi. Langkah ini dilakukan agar pemasangan lebih mudah sekaligus memperlancar distribusi material berupa paralon berdiameter 6 inci dengan panjang satu meter.
Dwi menegaskan, tidak semua titik bisa dipasang biopori. Lokasi yang sudah dipadatkan atau diplester terpaksa ditolak karena menyulitkan pengerjaan. Biopori idealnya dibuat di tanah alami atau tanah liat.
“Banyak lokasi yang sudah diplester, itu kami tolak. Pemasangan harus di tanah agar lebih mudah dan sesuai fungsi,” jelasnya.
Ia mengakui, program ini masih menghadapi berbagai tantangan. Meski awalnya ditargetkan rampung pada awal Juli, hingga kini pemasangan belum dimulai. Kelurahan memilih berhati-hati agar pelaksanaan tepat sasaran.
“Di lapangan kendalanya cukup banyak, jadi kami jalankan dengan hati-hati. Insya Allah Agustus mulai pemasangan,” katanya.
Saat ini, kelurahan baru mengajukan pengadaan peralatan kepada lurah. Tahap berikutnya adalah pembelian alat, termasuk dua unit mesin bor tanah. Pengadaan paralon dilakukan bertahap sesuai kebutuhan dan akan langsung didistribusikan ke masing-masing RW demi keamanan.
Keterbatasan lahan juga menjadi kendala utama. Wilayah Serua didominasi perumahan padat sekitar 80 persen, sementara fasilitas sosial dan umum sangat terbatas. Dengan jumlah 24 RW dan 160 RT serta populasi terbesar di Kecamatan Ciputat, ruang terbuka untuk biopori semakin sempit.
“Wilayah kami padat penduduk, mayoritas perumahan. Fasos dan fasum terbatas, ini jadi tantangan,” ungkapnya.
Dari sisi tenaga kerja, program ini juga terkendala rendahnya upah. Honor tukang sebesar Rp90 ribu per hari dinilai kurang menarik. Dengan target lima lubang per orang per hari, minat pekerja masih minim.
“Upahnya kecil, jadi banyak yang tidak mau. Saat ini baru ada dua orang dari linmas, kami masih butuh tambahan tenaga,” tambahnya.
Kelurahan berharap partisipasi warga di RW lain segera meningkat agar target 1.000 titik biopori tercapai. Program ini diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA Cipeucang, sehingga hanya sampah residu yang akan dibuang ke hilir. (din)