Program Biopori Kelurahan Cipayung Digulirkan, Minimnya Ongkos Tukang Rp90 Ribu per Hari tak Jadi Soal
Kelurahan Cipayung, Ciputat, Kota Tangerang Selatan mulai menyiapkan program pembuatan lubang biopori sebagai upaya menjaga lingkungan dan mengelola sampah organik.
HARIANRAKYAT.ID, TANGSEL — Program pembuatan lubang biopori mulai disiapkan di Kelurahan Cipayung, Ciputat, Kota Tangsel. Kendati minimnya biaya tukang sebesar Rp 90 ribu per hari, dinilai bukan menjadi kendala utama.
Lurah Cipayung, Dini Nurlianti, menjelaskan bahwa pihaknya belum sampai pada tahap pelaksanaan, sehingga belum bisa memastikan apakah biaya tersebut yang dinilai terlalu kecil akan menjadi hambatan di lapangan. Namun, ia menegaskan bahwa program ini akan dijalankan secara gotong royong bersama masyarakat.
“Karena belum dikerjakan, kami belum sampai ke arah sana. Tapi intinya, program ini kita lakukan bersama-sama dengan lingkungan,” ujarnya, Senin (13/7/2026).
Meski terdapat instruksi dari Wali Kota Tangsel agar program biopori sudah berjalan pada Juli, Kelurahan Cipayung saat ini masih berada pada tahap perencanaan dan pengadaan.
"Dalam pelaksanaannya, penerima manfaat akan difasilitasi oleh pengurus RT dan RW, serta didukung tim wilayah dalam penentuan titik lokasi," tambah ia.
Saat ini, jumlah awal yang disiapkan sekitar 500 titik biopori. Namun, distribusinya dilakukan secara bertahap dan belum mencakup seluruh wilayah. Hal ini disesuaikan dengan ketersediaan anggaran serta tingkat partisipasi warga.
“Untuk tahap awal, estimasi bisa mencapai seribu titik. Pelaksanaannya fleksibel di 12 RW dan 56 RT, tergantung permintaan dan kesiapan masyarakat. Program ini bersifat partisipatif dan tidak memaksakan,” jelasnya.
Distribusi alat dan kebutuhan biopori nantinya akan langsung disalurkan ke lapangan tanpa melalui penyimpanan di kantor kelurahan. Langkah ini diambil agar proses berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.
Namun demikian, pelaksanaan program ini juga menghadapi tantangan, terutama di wilayah perkotaan yang lahannya sudah tertutup beton atau bangunan permanen.
“Memang tidak bisa dipaksakan, karena banyak halaman rumah yang sudah tertutup. Jadi kita sesuaikan dengan kondisi di lapangan,” tambahnya.
Program biopori ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah organik dan menjaga keseimbangan lingkungan. Kelurahan juga mendorong kolaborasi aktif antara warga dan perangkat wilayah agar manfaatnya bisa dirasakan secara maksimal.
Ke depan, program ini akan terus dievaluasi dan dikembangkan sesuai kebutuhan serta dukungan anggaran yang tersedia. Biopori dinilai sebagai solusi sederhana namun efektif untuk menjaga lingkungan di kawasan perkotaan. (din)