Tekan Sampah 15 Ton per Hari, 1.200 Lubang Biopori Digarap Masif di Sawah Baru
Program pemasangan 1.200 lubang biopori di Kelurahan Sawah Baru, Ciputat, Kota Tangerang Selatan mulai digarap sejak Juli 2026 dan ditargetkan rampung dalam lima bulan.
HARIANRAKYAT.ID, KOTA TANGSEL- Program 1.200 lubang biopori di Kelurahan Sawah Baru, Ciputat Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mulai berjalan sejak awal Juli 2026. Pengerjaan ditarget salam waktu lima bulan kedepan.
Kasi Kesejahteraan Sosial Kelurahan Sawah Baru, Wina Nurhayati, mengatakan hingga kini pemasangan telah mencapai sekitar 30 titik. Proses pengerjaan dilakukan oleh empat orang tenaga dengan target 20 titik per hari.
“Pemasangan sudah berjalan sejak awal Juli. Saat ini kami fokus di RW 3 sebagai tahap awal, lalu akan bergeser ke wilayah lain,” ujar Wina, Kamis (23/7/2026).
Dalam pelaksanaannya, sejumlah kendala teknis masih ditemui di lapangan. Kondisi lahan yang sempit serta banyaknya area yang sudah dipaving atau diplester menjadi tantangan utama saat proses pengeboran.
“Memang tidak mudah, terutama karena kondisi lahan. Selain itu, sempat terkendala tenaga kerja terkait kecilnya biaya. Tapi sekarang sudah mulai banyak yang berminat,” jelasnya.
Faktor kondisi tanah juga turut memengaruhi kecepatan pengerjaan. Pada tanah yang masih alami, pengeboran bisa dilakukan lebih cepat. Namun jika terdapat batu atau material keras, waktu pengerjaan menjadi lebih lama.
“Rata-rata satu titik memakan waktu sekitar 20 menit. Kami juga menggunakan alat bantu manual seperti linggis untuk mempercepat proses,” tambahnya.
Untuk mempercepat capaian, kelurahan mendistribusikan alat biopori berupa pipa paralon sepanjang satu meter dengan diameter enam inci ke masing-masing RW. Penempatan titik dilakukan berdasarkan kebutuhan warga agar lebih efektif dan tepat sasaran.
"Partisipasi masyarakat pun terlihat cukup tinggi. Pengurus RT ikut terlibat langsung dalam pemasangan sekaligus memberikan edukasi kepada warga terkait manfaat biopori," jelasnya.
Program ini menjadi bagian dari upaya mengurangi volume sampah, khususnya sampah organik yang dapat diolah menjadi kompos melalui lubang biopori. Selain itu, kegiatan bank sampah juga rutin digelar setiap bulan, disertai kerja bakti di berbagai titik, termasuk penanganan lokasi pembuangan sampah liar.
“Hasilnya sudah mulai terlihat. Lingkungan jauh lebih bersih dibanding sebelumnya,” ungkap Wina.
Sementara itu, Lurah Sawah Baru, Muslim, menegaskan bahwa kombinasi program biopori dan bank sampah ditarget efektif menekan volume sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang.
“Produksi sampah di Sawah Baru sekitar 15 ton per hari. Dengan adanya biopori dan bank sampah, jumlah tersebut diharapkan bisa berkurang secara signifikan,” tegasnya.
Meski demikian, ia menilai perlu adanya evaluasi lanjutan, terutama terkait pengelolaan sampah organik ketika lubang biopori sudah penuh. Hal ini membutuhkan penanganan teknis lebih lanjut dari dinas terkait.
Muslim juga menambahkan, sebagian warga telah memanfaatkan jasa pengangkutan sampah swasta, sehingga beban pemerintah daerah dalam penanganan sampah turut terbantu.
"Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, program ini diharapkan mampu menjadi solusi berkelanjutan dalam mengatasi persoalan sampah di tingkat kelurahan," tutupnya. (din).