Santri dan Pesantren, Kekuatan Strategis Pembangunan Tangsel
Katib Syuriyah PCNU Tangsel, H Ahmad Syarif Hidayat, mendorong PCNU Tangsel menyinergikan potensi pesantren dengan agenda pembangunan daerah melalui program pendidikan, Santri Digital, kemandirian ekonomi pesantren dan penguatan solidaritas sosial.
Oleh: H Ahmad Syarif Hidayat. SHI., MH.
Pembangunan Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tidak cukup hanya diukur dari megahnya gedung, panjangnya jalan, tumbuhnya kawasan bisnis, atau meningkatnya investasi. Lebih dari itu, pembangunan harus mampu melahirkan manusia yang berilmu, berakhlak, mandiri dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Di sinilah pesantren dan santri memiliki posisi strategis. Keduanya bukan sekadar bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat, melainkan kekuatan sosial yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi masa depan Tangsel.
Pesantren telah lama menjadi ruang pendidikan, pembentukan karakter, penguatan tradisi keilmuan Islam, sekaligus tempat masyarakat membangun solidaritas. Sementara itu, santri merupakan generasi yang ditempa dengan nilai kedisiplinan, kesederhanaan, kemandirian, penghormatan terhadap ilmu dan pengabdian kepada masyarakat.
Apabila potensi tersebut dikelola secara terarah dan disinergikan dengan agenda pembangunan daerah, pesantren dan santri dapat menjadi salah satu modal penting untuk membawa Tangsel menuju kota yang maju, berdaya saing, dan tetap memiliki fondasi moral yang kuat.
Santri Bukan Hanya Penjaga Tradisi
Selama ini, santri kerap dipandang terutama sebagai pelajar ilmu agama. Pandangan tersebut tentu tidak salah, tetapi belum sepenuhnya menggambarkan potensi santri dalam kehidupan modern.
Santri juga dapat menjadi guru, akademisi, pengusaha, peneliti, jurnalis, profesional, teknolog, pemimpin masyarakat, hingga penggerak inovasi sosial. Bekal keagamaan yang dimiliki dapat menjadi pondasi etika dalam menjalankan berbagai profesi tersebut.
Tantangan zaman menuntut pesantren terus mengembangkan kualitas pendidikan tanpa kehilangan jati dirinya. Penguasaan ilmu agama perlu berjalan beriringan dengan kemampuan literasi, penguasaan teknologi, kecakapan berkomunikasi, kewirausahaan, serta pemahaman terhadap persoalan sosial dan ekonomi.
Dengan pendekatan itu, santri tidak hanya dipersiapkan untuk menjaga warisan keilmuan Islam, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perubahan zaman.
Dalam konteks Tangsel yang berkembang sebagai pusat permukiman, pendidikan, perdagangan, jasa dan kegiatan ekonomi, kemampuan tersebut menjadi semakin relevan. Santri perlu memperoleh kesempatan yang luas untuk mengambil bagian dalam perkembangan kota, bukan sekadar menjadi penonton di tengah kemajuan yang berlangsung.
Pesantren sebagai Modal Sosial Pembangunan
Pesantren memiliki kekuatan yang tidak selalu dimiliki lembaga pendidikan lainnya. Selain menyelenggarakan pendidikan, pesantren membangun hubungan sosial antara kiai, santri, alumni, wali santri dan masyarakat di sekitarnya.
Jaringan tersebut merupakan modal sosial yang penting bagi pembangunan daerah.
Melalui pesantren, nilai tanggung jawab, kepedulian sosial, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama dapat ditanamkan secara berkelanjutan. Nilai-nilai tersebut dibutuhkan untuk membangun masyarakat yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga memiliki ketahanan sosial.
Tangsel menghadapi beragam tantangan perkotaan, mulai dari kebutuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia, kesenjangan kesempatan ekonomi, persoalan lingkungan, hingga tantangan dalam mendidik generasi muda di tengah derasnya arus informasi digital.
Pesantren dapat mengambil bagian dalam menjawab persoalan tersebut melalui pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, dan kerja sama lintas sektor.
Santri, misalnya, dapat dilibatkan dalam gerakan literasi, pendampingan belajar anak-anak, edukasi lingkungan, kegiatan kemanusiaan, serta penguatan etika bermedia sosial. Pesantren juga dapat menjadi ruang tumbuhnya generasi muda yang mampu memadukan kecakapan intelektual, kedalaman spiritual, dan kepedulian sosial.
Dengan demikian, pesantren tidak berdiri di luar proses pembangunan. Sebaliknya, pesantren menjadi salah satu mitra strategis yang ikut memperkuat fondasi pembangunan manusia.
Menyelaraskan Potensi Santri dengan Khidmat PCNU Tangsel
Penguatan pesantren dan santri perlu ditempatkan dalam kerangka gerakan organisasi yang terarah. Dalam konteks ini, PCNU Tangerang Selatan memiliki peluang untuk menjadikan potensi pesantren sebagai salah satu kekuatan utama dalam menjalankan agenda khidmatnya.
Arah khidmat PCNU Tangsel periode 2026–2031 dan perencanaan jangka panjang organisasi perlu diterjemahkan ke dalam program yang tidak hanya memperkuat kelembagaan NU, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi jamaah dan masyarakat.
Pertama, penguatan pendidikan dan kualitas sumber daya manusia. PCNU Tangsel mendorong kolaborasi antara pesantren, perguruan tinggi, lembaga pendidikan dan dunia usaha. Kolaborasi tersebut dapat dikembangkan melalui beasiswa, pelatihan keterampilan, peningkatan kapasitas pendidik, serta pendampingan bagi santri yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Tujuannya bukan mengubah karakter pesantren, melainkan memperluas kesempatan santri agar mampu mengembangkan potensinya.
Kedua, transformasi digital pesantren. Perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka peluang baru dalam pendidikan, komunikasi dan ekonomi.
PCNU Tangsel mendorong program Santri Digital yang mencakup literasi media, jurnalistik, produksi konten edukatif, pemasaran digital, serta pemanfaatan AI secara produktif dan bertanggung jawab.
Penguasaan teknologi perlu disertai etika. Santri harus mampu memanfaatkan ruang digital untuk menyebarkan pengetahuan, memperkuat persaudaraan, melawan hoaks dan membangun komunikasi yang sehat di tengah masyarakat.
Ketiga, pemberdayaan ekonomi pesantren dan kemandirian jamaah. Pesantren dapat mengembangkan unit usaha sesuai potensi dan kebutuhan masing-masing, mulai dari kuliner halal, perdagangan, percetakan, jasa digital, hingga usaha kreatif.
PCNU Tangsel dapat berperan sebagai penghubung antara pesantren, pengusaha Nahdliyin, koperasi, lembaga keuangan syariah, perguruan tinggi dan pasar yang lebih luas.
Program tersebut perlu diarahkan pada penguatan kemampuan manajemen, pembukuan, legalitas usaha, sertifikasi halal sesuai ketentuan, pemasaran, dan akses pembiayaan yang sehat.
Kemandirian ekonomi penting agar pesantren memiliki ruang lebih luas untuk mengembangkan pendidikan dan kegiatan sosial tanpa sepenuhnya bergantung pada bantuan pihak lain.
Keempat, pengabdian masyarakat dan penguatan solidaritas sosial. Santri dapat mengambil peran dalam kegiatan pendidikan masyarakat, kepedulian lingkungan, pendampingan kelompok rentan, bantuan kemanusiaan, serta pencegahan kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkoba.
Program pengabdian tersebut dapat disusun bersama lembaga dan badan otonom NU, pesantren, pemerintah daerah, serta komunitas masyarakat.
Dengan begitu, khidmat NU tidak hanya dirasakan dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga hadir dalam menjawab persoalan konkret yang dihadapi warga Tangsel.
Kelima, penguatan kelembagaan dan jejaring pesantren. Data yang akurat mengenai jumlah pesantren, santri, pengasuh, tenaga pendidik, fasilitas dan kebutuhan pendidikan menjadi dasar penting dalam menyusun program.
PCNU Tangsel dapat mendorong pemetaan bersama Kementerian Agama dan pemangku kepentingan terkait. Hasilnya dapat digunakan untuk menentukan prioritas pendampingan, mengembangkan kemitraan, dan memastikan program menjangkau pesantren yang benar-benar membutuhkan.
Seluruh upaya tersebut harus ditempatkan dalam semangat khidmat, bukan sekadar memperbanyak kegiatan organisasi. Ukuran keberhasilan terletak pada manfaat yang dapat dirasakan oleh santri, pesantren, jamaah, dan masyarakat luas.
Dari Kekuatan Keagamaan Menjadi Kekuatan Ekonomi
Salah satu potensi yang perlu mendapatkan perhatian lebih besar adalah kemampuan pesantren membangun ekosistem ekonomi berbasis masyarakat.
Di sekitar pesantren terdapat kebutuhan yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif, seperti penyediaan makanan, kebutuhan pendidikan, pakaian, percetakan, layanan digital dan berbagai jasa lainnya.
Jika dikelola secara profesional, kebutuhan tersebut dapat menjadi peluang bagi tumbuhnya usaha pesantren dan UMKM masyarakat.
Santri juga dapat diperkenalkan pada kewirausahaan sejak dini melalui pembelajaran yang sesuai dengan usia, jenjang pendidikan, dan lingkungan pesantren. Mereka perlu memahami dasar pengelolaan usaha, tanggung jawab keuangan, pelayanan konsumen, serta etika bisnis.
Dalam hal ini, nilai-nilai Islam dapat menjadi fondasi penting. Kejujuran, amanah, keadilan, dan tanggung jawab bukan hanya ajaran moral, melainkan juga prinsip yang dibutuhkan untuk membangun usaha yang sehat dan berkelanjutan.
PCNU Tangsel dapat memfasilitasi pertemuan antara potensi pesantren dan jejaring pengusaha Nahdliyin. Perguruan tinggi dapat mendukung pendampingan manajemen, sedangkan pemerintah daerah dapat memfasilitasi program sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku.
Namun, pemberdayaan ekonomi pesantren tidak boleh berhenti pada pembentukan unit usaha. Yang lebih penting adalah memastikan usaha tersebut dikelola secara transparan, memiliki pasar, memberikan manfaat, dan dapat bertahan dalam jangka panjang.
Dengan demikian, ekonomi pesantren tidak hanya menjadi sumber pendapatan lembaga, tetapi juga membuka peluang kerja dan memperkuat kesejahteraan masyarakat.
Bersinergi dengan Pemerintah Tanpa Kehilangan Kemandirian
Pembangunan Tangsel membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah daerah memiliki kewenangan dan program pembangunan, sedangkan pesantren, organisasi keagamaan, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat memiliki sumber daya serta pengalaman yang dapat saling melengkapi.
Dalam hubungan tersebut, PCNU Tangsel dapat menjadi jembatan kolaborasi antara kebutuhan pesantren dan agenda pembangunan kota.
Sinergi dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan keterampilan, literasi digital, pemberdayaan ekonomi, penguatan kepedulian lingkungan dan kegiatan sosial kemasyarakatan.
Tentu, kerja sama harus dibangun secara terukur, transparan, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Program perlu memiliki tujuan, sasaran penerima manfaat, pembagian tanggung jawab, serta mekanisme evaluasi yang jelas.
Kemandirian organisasi juga harus tetap dijaga. Kolaborasi bukan berarti menghilangkan daya kritis, apalagi menjadikan pesantren sekadar pelengkap program pemerintah. Sebaliknya, kerja sama yang sehat memungkinkan pesantren memberikan kontribusi sekaligus menyampaikan masukan konstruktif bagi kebijakan publik.
Pesantren harus tetap memiliki kebebasan untuk mengembangkan tradisi keilmuan, pendidikan dan pengabdiannya sesuai dengan nilai serta karakter masing-masing.
Menjadikan Santri Bagian dari Masa Depan Tangsel
Potensi santri dan pesantren tidak akan berkembang secara maksimal apabila hanya dibicarakan dalam forum-forum seremonial. Diperlukan program yang berkelanjutan, pendampingan yang konsisten, serta evaluasi yang berorientasi pada hasil.
Karena itu, PCNU Tangsel bersama pesantren dan para pemangku kepentingan dapat memulai dari langkah-langkah konkret: memperbarui data pesantren, memetakan kebutuhan santri, menentukan program prioritas, membangun kemitraan dan menetapkan indikator keberhasilan.
Keberhasilan tidak cukup diukur dari banyaknya pelatihan yang diselenggarakan. Perlu dilihat pula apakah santri memperoleh keterampilan baru, apakah lulusan memiliki kesempatan lebih baik untuk melanjutkan pendidikan, apakah usaha pesantren berkembang dan apakah masyarakat merasakan manfaat dari kegiatan pengabdian.
Pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan organisasi modern: menjaga tradisi, memperkuat kelembagaan, sekaligus memastikan setiap program menghasilkan manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, masa depan Tangsel bukan hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan kemajuan ekonomi. Kualitas manusia yang mengisi kota ini juga menentukan arah kemajuannya.
Santri yang berilmu, berakhlak, menguasai teknologi, mandiri secara ekonomi dan peduli terhadap masyarakat merupakan aset penting bagi pembangunan daerah. Sementara itu, pesantren dapat menjadi ruang strategis untuk menumbuhkan kualitas tersebut.
Bagi PCNU Tangsel, menghubungkan kekuatan pesantren dengan agenda pembangunan kota merupakan bagian dari ikhtiar memperluas manfaat khidmat NU. Organisasi tidak cukup hanya kuat secara struktural, tetapi juga harus mampu menghadirkan perubahan yang dirasakan jamaah dan masyarakat.
Santri tidak boleh hanya menjadi penonton kemajuan kota. Mereka harus dipersiapkan menjadi pelaku yang ikut menentukan arah masa depan Tangsel. Pesantren pun tidak cukup hanya dikenang sebagai penjaga tradisi, tetapi perlu diperkuat sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan, dan peradaban.
Dengan semangat tersebut, pesantren dan santri dapat menjadi kekuatan strategis untuk mewujudkan Tangerang Selatan yang maju secara material, kokoh secara moral, mandiri secara ekonomi, serta tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Penulis adalah Katib Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Tangerang Selatan, sekaligus Kepala KUA Kecamatan Setu Kota Tangerang Selatan