News and Education Versi penuh
Nasional

Prof. Dr. Hasani Ahmad Said Tawarkan Konstruksi Epistemologi Tafsir Maqāṣidī dan Keindonesiaan

Konsep tersebut bertumpu pada empat unsur, yakni naṣṣ, ‘aql, maqāṣid, dan wāqi‘, untuk menghubungkan nilai Al-Qur’an dengan realitas kehidupan masyarakat Indonesia serta mendorong kemaslahatan bersama.

Oleh Adm 30 Sep 2026 14:18 4 menit baca

HARIANRAKYAT.Id, Jakarta, 30 September 2026— Pengukuhan Prof. Dr. Hasani Ahmad Said sebagai Guru Besar Tafsir Maqasidi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah. 


Dalam pidato pengukuhan yang berlangsung di Auditorium Harun Nasution, Prof. Dr. Hasani Ahmad Said menawarkan sebuah konstruksi epistemologi Tafsir Maqāṣidī dan Keindonesiaan yang berpijak pada kebutuhan untuk menghadirkan penafsiran Al-Qur’an yang responsif terhadap dinamika kehidupan masyarakat Indonesia.


Dalam pandangannya, tafsir tidak cukup berhenti pada upaya memahami makna teks secara literal, tetapi perlu bergerak menuju pemahaman yang mampu menjawab persoalan manusia dan kehidupan. 

Karena itu, Tafsir Maqāṣidī dan Keindonesiaan dibangun melalui empat karakter epistemologis utama, yakni integratif, kontekstual, interdisipliner, dan transformatif.


Prof. Dr. Hasani menjelaskan bahwa epistemologi tersebut bersifat integratif karena mempertemukan berbagai sumber dan perangkat pengetahuan, yakni wahyu, Sunnah, tradisi, akal, dan realitas.

Integrasi ini menempatkan teks keagamaan dan kehidupan manusia bukan sebagai dua wilayah yang terpisah, melainkan sebagai unsur yang perlu dibaca secara utuh dalam proses penafsiran.


Epistemologi tersebut juga bersifat kontekstual, karena penafsiran perlu memperhatikan pengalaman historis dan sosial masyarakat Indonesia. Al-Qur’an hadir dalam ruang kehidupan yang konkret, sehingga proses memahami dan mengaktualisasikan pesan-pesannya perlu mempertimbangkan konteks masyarakat, budaya, sejarah, serta berbagai persoalan yang berkembang di Indonesia.


Selanjutnya, Tafsir Maqāṣidī dan Keindonesiaan bersifat interdisipliner. Menurut Prof. Dr. Hasani, kompleksitas persoalan kontemporer menuntut keterbukaan tafsir terhadap dialog dengan berbagai cabang ilmu pengetahuan. 


Persoalan sosial, ekonomi, politik, budaya, pendidikan, lingkungan, kesehatan, dan perkembangan teknologi tidak selalu dapat dijelaskan hanya dengan satu disiplin ilmu. 

Karena itu, dialog antara ilmu Al-Qur’an dan tafsir dengan ilmu-ilmu lain menjadi bagian penting dalam membangun penafsiran yang relevan.

Adapun karakter transformatif menegaskan bahwa tujuan akhir penafsiran bukan semata-mata memahami teks, melainkan menghadirkan kemaslahatan dan perbaikan kehidupan. 


Tafsir diharapkan mampu menjembatani nilai-nilai Al-Qur’an dengan kebutuhan nyata masyarakat, sehingga pengetahuan keagamaan memiliki daya guna dan memberikan kontribusi bagi kehidupan bersama.


Empat Pilar Epistemologis. Dari empat karakter tersebut, Prof. Dr. Hasani merumuskan konstruksi epistemologis Tafsir Maqāṣidī yang bertumpu pada empat unsur yang saling berkelindan, yaitu naṣṣ, ‘aql, maqāṣid dan wāqi‘.


Naṣṣ memberikan legitimasi. Teks Al-Qur’an dan Sunnah menjadi pijakan normatif dalam proses penafsiran. 

‘Aql memberikan argumentasi, sehingga teks tidak hanya dibaca secara tekstual, tetapi dianalisis melalui kemampuan intelektual dan nalar kritis.

Sementara itu, maqāṣid memberikan orientasi. Penafsiran diarahkan pada tujuan-tujuan luhur syariat dan nilai kemaslahatan yang hendak diwujudkan. 

Adapun wāqi‘ memberikan aktualisasi, karena pesan-pesan normatif Al-Qur’an perlu dihadirkan dalam realitas kehidupan manusia yang konkret.


Keempat unsur tersebut tidak berdiri sendiri. Naṣṣ, ‘aql, maqāṣid dan wāqi‘ membentuk sebuah bangunan epistemologis yang saling melengkapi: naṣṣ memberikan dasar legitimasi, ‘aql mengembangkan argumentasi, maqāṣid menentukan arah dan tujuan, sedangkan wāqi‘ menjadi ruang aktualisasi nilai-nilai tersebut.


Dengan konstruksi ini, Tafsir Maqāṣidī dan Keindonesiaan diarahkan untuk membangun hubungan yang produktif antara teks dan konteks, antara nilai normatif dan realitas sosial, serta antara khazanah keislaman dan perkembangan ilmu pengetahuan.


Meneguhkan Peran Tafsir dalam Kehidupan Indonesia
Gagasan tersebut sekaligus menempatkan tafsir sebagai disiplin keilmuan yang memiliki tanggung jawab sosial. 

Tafsir tidak hanya berfungsi menjelaskan kandungan ayat, tetapi juga berperan dalam menemukan relevansi nilai-nilai Al-Qur’an bagi persoalan kehidupan masyarakat Indonesia.


Dalam konteks Indonesia yang memiliki keragaman budaya, tradisi, pengalaman sejarah, serta tantangan sosial yang kompleks, pendekatan Tafsir Maqāṣidī dan Keindonesiaan menawarkan ruang dialog antara teks suci dan realitas.


Dengan demikian, penafsiran Al-Qur’an dapat terus berkembang tanpa kehilangan pijakan normatifnya, sekaligus mampu merespons perubahan zaman.

Gagasan Prof. Dr. Hasani Ahmad Said tersebut memperkuat ikhtiar pengembangan tafsir yang tidak hanya tekstual dan normatif, tetapi juga kontekstual, dialogis, dan berorientasi pada kemaslahatan.


Dalam kerangka itu, Al-Qur’an tidak diposisikan semata sebagai teks yang dibaca, tetapi sebagai sumber nilai yang terus diupayakan aktualisasinya dalam kehidupan.

Pengukuhan Guru Besar pada 30 September 2026 di Auditorium Harun Nasution dengan demikian menjadi momentum akademik untuk memperluas diskursus tentang masa depan studi Al-Qur’an dan tafsir di Indonesia, khususnya dalam membangun corak tafsir yang berakar pada tradisi keilmuan Islam, terbuka terhadap ilmu pengetahuan, peka terhadap konteks keindonesiaan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat serta kehidupan bersama. (*).

Topik terkait
Prof Hasani Ahmad Said Tafsir Maqasidi Tafsir Keindonesiaan Guru Besar UIN Jakarta UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tafsir Al-Qur’an Epistemologi Tafsir Maqasid Syariah Al-Qur’an Pendidikan Islam Studi Islam Keislaman Kemaslahatan Umat Hasani Ahmad Said