Menu MBG Yayasan Merah Putih Berkibar di Kemang Bogor Bikin Siswa Lahap, Jadi SPPG Terbaik
SPPG Bogor Kemang Tegal milik Deni Pramuji mampu mempertahankan kepercayaan siswa dan guru melalui menu MBG yang beragam, bahan baku berkualitas, makanan segar, serta distribusi tepat waktu. SDN 4 Tegal bahkan memilih tetap menggunakan dapur tersebut meski sempat diarahkan berpindah ke SPPG lain.
HARIANRAKYAT.ID, BOGOR — Aktivitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah naungan Yayasan Merah Putih Berkibar, saben hari menyediakan 2.700 porsi. SPPG yang berlokasi di di RT 001/RW 03, Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor menjadi dapur terbaik bagi penerima manfaat.
Pengelola SPPG Deni Pramuji merasa beryukur apresiasi dari para penerima manfaat. Menurutnya mengelola dapur ini bukan sekadar mengejar target ribuan porsi. Tapi bagaimana membuat rasa, kualitas bahan, variasi menu hingga ketepatan waktu makanan tiba di sekolah, menjadi prioritas utama.
"Jadi setelah ada surat edaran penyesuaian porsi, ada banyak penerima manfaat ingin tetap mendapatkan MBG dari dapur kami. Mereka merasa cocok dengan menu yang kami sajikan termasuk soal kebersihan dan sebagainya. Namun Berhubung ada penyesuain porsi maka kami harus mengikuti aturan," ujarnya.
Setiap hari, dapur ini mampu memproduksi sekitar 2.700 porsi makanan siap santap. Menu tidak melulu ayam. Daging, telur, sayuran dan buah juga masuk dalam komposisi sajian.
Bagi Deni, makanan bergizi tidak cukup hanya memenuhi standar. Makanan juga harus enak dan layak dinikmati anak-anak.
Sebab, makanan yang bagus tetapi tidak disentuh siswa, tentu kehilangan makna dari program MBG itu sendiri. Maka dari itu memilih bakan baku yang terbaik menjadi kunci.
“Bahan baku kalau memang datang jelek, kita wajib tolak,” tegas Deni, Jumat (18/9/2026) pagi.
Prinsip itu menjadi salah satu pegangan dapurnya. Bahan baku diperiksa sejak datang sebelum masuk ke proses produksi.
Menurut Deni, menjadi mitra pemerintah dalam program MBG bukan semata-mata perkara bisnis. Keuntungan memang harus diperoleh sesuai aturan, tetapi amanah kepada penerima manfaat tidak boleh ditinggalkan.
Di balik aktivitas menyiangi bahan, mencuci, memasak, mengemas hingga mendistribusikan makanan, ia ingin seluruh pekerja memahami bahwa pekerjaan tersebut memiliki nilai sosial.
Ada anak-anak yang menunggu makanan mereka. Ada pula harapan agar makanan yang disantap hari ini ikut menopang tumbuh kembang generasi masa depan.
“Dengan makanan bergizi maka akan terbangun pondasi bagaimana generasi ke depan. Daya kritis akan terbangun, dan akan lahir anak-anak yang hebat,” ujarnya.
Bukan Asal Masak
Satu hal yang menjadi perhatian Deni adalah waktu memasak. Ia tidak ingin makanan terlalu lama menunggu sebelum disantap. Karena itu, jadwal memasak disesuaikan dengan waktu distribusi.
Pesanan untuk pagi hari dimasak sejak dini hari. Sementara makanan yang akan dikirim menjelang siang dimasak pada pagi hari.
“Kalau permintaannya pagi, kita masak jam 12 atau jam 1 malam. Kalau permintaannya jam 11, kita masak jam 7 atau 8, sehingga masakannya masih fresh,” jelasnya.
Pelayanan pun dibuat terbuka. Keluhan dari sekolah maupun penerima manfaat tidak dianggap sebagai gangguan.
“Kalau ada keluhan-keluhan, kita terbuka lebar,” katanya.
Deni juga mengapresiasi langkah Badan Gizi Nasional (BGN) dalam menerima masukan dari berbagai pihak. Namun, ia mengusulkan penguatan pengawasan melalui keterlibatan konsultan.
Menurutnya, konsultan dapat melihat proses secara lebih menyeluruh, mulai dari manajemen, tenaga kerja, proses memasak hingga pemorsian.
“Seorang konsultan akan membedah dengan detail, mulai dari manajemen, staf, proses memasak hingga pemorsiannya,” ujarnya.
Ia menilai keberadaan chef saja belum cukup. Dapur juga membutuhkan Quality Assurance (QA) yang bekerja memastikan kualitas berjalan melalui sistem yang terukur.
“Chef itu membuat masakan menjadi baik, tetapi yang dibutuhkan juga QA. Konsultan ini bisa menjadi penengah,” katanya.
Menu Tak Boleh Membosankan
Kepala SPPG Kemang Bogor, Ahsan Nurfalah, mengatakan selama sekitar setahun beroperasi, pihaknya terus melakukan evaluasi menu.
Masukan sekolah menjadi salah satu bahan pertimbangan. Tidak jarang pengelola datang langsung ke sekolah atau posyandu untuk mengetahui menu yang disukai penerima manfaat.
“Terkadang kami datang ke sekolah atau posyandu untuk menanyakan masukannya. Kalau ada menu yang disukai atau diminati, kita tambah dan diperbanyak,” jelas Ahsan.
Ayam katsu, misalnya, menjadi salah satu menu yang cukup digemari.
Meski ayam masih dominan, variasi sumber protein mulai diperkuat. Dalam dua pekan terakhir, menu daging disajikan dua kali dalam dua pekan, diselingi telur.
“Dua minggu terakhir ini kita menyajikan daging dua kali, seminggu sekali. Walaupun diselingi telur. Telur maksimal dua kali dengan variasi saus,” bebernya.
SDN 4 Tegal Tak Mau Pindah Dapur
Kepala SDN 4 Tegal, Sobariyah, mengatakan sekolahnya telah bekerja sama dengan SPPG Kemang Bogor selama sekitar satu tahun. Selama itu, ia mengaku tidak menemukan keluhan berarti dari siswa justru sebaliknya siswa merasa sangat senang karena masakanya enak.
“Alhamdulillah selama ini tidak ada keluhan dari siswa,” ungkapnya.
Jarak dapur yang relatif dekat dengan sekolah juga menjadi keuntungan. Makanan lebih cepat tiba sehingga kondisinya masih segar ketika diterima siswa.
Menariknya, sekolah tersebut sempat mendapat arahan untuk menggunakan dapur SPPG lain. Namun, Sobariyah memilih bertahan.
“Saya juga pernah diarahkan untuk mengganti dapur. Terus terang kami menolak. Kami konsisten dengan yang sudah kami terima karena berdasarkan pembanding-pembanding, untuk saat ini dapur ini yang terbaik,” tegasnya. (din).