Imam Masjid Dituntut tak Hanya Fasih, tapi Juga Memahami Al-Qur’an dan Teladan Bagi Umat
Imam masjid tidak hanya dituntut memiliki kefasihan dalam membaca Al-Qur’an, tetapi juga harus memahami maknanya secara mendalam serta mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
HARIANRAKYAT.ID, TANGERANG – Dalam suasana yang sarat nilai keilmuan dan ruhaniyah, gelaran Bridging International Grand Imams Conference dan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Imam Masjid Tingkat Provinsi Banten menjadi momentum penting. Sebagai upaya meneguhkan peran imam masjid sebagai penjaga cahaya wahyu.
Acara ini diselenggarakan Pimpinan Wilayah Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (PW IPIM) Banten di bawah kepemimpinan Prof Ahmad Tholabi Kharlie. Sosok yang dikenal sebagai ahli tilawah ini menjadi representasi penting dari imam yang tidak hanya indah dalam bacaan, tetapi juga dalam pemaknaan.
"Seorang imam tidak cukup hanya memimpin shalat, tetapi juga wajib memiliki pemahaman yang utuh terhadap Al-Qur’an. Sebab, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan petunjuk hidup yang harus dihadirkan dalam realitas umat," ujarnya, di Masjid Raya Baitul Mukhtar, BSD City, Kabupaten Tangerang, pada Jumat 3 Juli 2026.
Disisi lain, kehadiran Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, semakin menguatkan nilai spiritual acara ini. Pengalaman panjang dalam mengelola masjid menjadi teladan bahwa kepemimpinan imam harus berlandaskan ilmu, hikmah dan akhlakul karimah.
"MTQ Imam Masjid bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan sarana tazkiyatun nafs dan peningkatan kapasitas keilmuan. Imam dituntut untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil sesuai kaidah tajwid, serta memiliki hafalan yang memadai agar mampu menghadirkan kekhusyukan dalam ibadah," bebernya.
Namun, keindahan suara belumlah cukup. Yang lebih utama adalah kemampuan memahami dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an. Seorang imam harus mampu menjelaskan ayat-ayat Allah dengan hikmah, menyentuh hati umat melalui khutbah, serta membimbing masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.
"Kegiatan ini diharapkan melahirkan imam-imam yang tidak hanya kuat secara hafalan, tetapi juga mendalam dalam tafsir dan luas dalam wawasan sosial. Imam yang mampu menjadi penerang di tengah umat," harapnya.
Upaya peningkatan kualitas imam ini direncanakan akan diperluas ke berbagai daerah. Hal ini menjadi langkah strategis dalam membangun peradaban Islam yang kokoh, berakar pada nilai-nilai Al-Qur’an, serta relevan dengan perkembangan zaman.
Dukungan dari berbagai pihak, termasuk Sinar Mas melalui program CSR, menunjukkan bahwa penguatan peran masjid adalah tanggung jawab bersama. Masjid Raya Baitul Mukhtar sendiri berdiri dalam harmoni dengan rumah ibadah lain, menjadi simbol bahwa Islam mengajarkan toleransi dan kedamaian.
Sejarah Islam telah memberikan teladan. Rasulullah SAW menjadikan masjid sebagai pusat peradaban tempat ibadah, pendidikan, musyawarah, hingga pelayanan sosial.
Para sahabat, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, melanjutkan kepemimpinan dengan menjunjung tinggi persatuan, keadilan, dan kemaslahatan umat.
Dalam konteks kekinian, imam masjid memikul amanah yang besar. Ia bukan hanya pemimpin shalat, tetapi juga pendidik, pembimbing moral, dan perekat ukhuwah di tengah masyarakat yang majemuk. Di era digital, peran ini semakin kompleks, karena arus informasi keagamaan tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan.
Oleh karena itu, imam harus menjadi rujukan yang tsiqah (terpercaya), menghadirkan dakwah yang sejuk, argumentatif, dan bersumber dari khazanah keilmuan Islam yang otoritatif. Nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, kasih sayang dan kepedulian sosial harus terwujud dalam kehidupan nyata, bukan sekadar retorika.
Umat membutuhkan imam yang tidak hanya fasih melantunkan ayat, tetapi juga mampu menghidupkan Al-Qur’an dalam perilaku sehari-hari. Keteladanan inilah yang akan melahirkan kepercayaan dan menguatkan peran masjid sebagai pusat pembinaan umat.
Dengan demikian, MTQ Imam Masjid merupakan ikhtiar mulia dalam menyiapkan generasi pemimpin spiritual yang berkualitas. Dari tangan para imam inilah diharapkan lahir masyarakat yang mencintai Al-Qur’an, berakhlak mulia, menjaga persatuan, serta memperkuat keutuhan bangsa dalam bingkai kebhinekaan.
Pada akhirnya, kemuliaan masjid tidak hanya terletak pada bangunannya, tetapi pada kualitas imam yang berdiri di mihrabnya. Dari sanalah cahaya Al-Qur’an dipancarkan, akhlak diteladankan, dan peradaban Islam dibangun secara berkelanjutan. (din).