Al-Qur’an dan Krisis Makna di Era Digital
\nGuru Besar dan Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, menyerukan pentingnya menghadirkan Al-Qur’an sebagai kompas mo...
Guru Besar dan Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, menyerukan pentingnya menghadirkan Al-Qur’an sebagai kompas moral di tengah disrupsi digital yang kian kompleks. Menurut dia, kemajuan teknologi yang mempermudah akses pengetahuan justru kerap menimbulkan ilusi kedalaman, di mana informasi melimpah tetapi makna semakin dangkal.
\n\n\n\n“Generasi digital sangat cepat menerima informasi, namun lemah dalam refleksi mendalam. Kita hidup di zaman ketika pengetahuan tersedia di ujung jari, tetapi kebijaksanaan semakin hilang,†ujarnya dalam Studium Generale bertema “Kembali ke Al-Qur’an: Membangun Generasi Qur’ani di Era Digital†yang digelar Lembaga Tahfizh dan Ta’lim Al-Qur’an (LTTQ) UIN Jakarta (26/10/2025).
\n\n\n\nTholabi menggambarkan fenomena modern sebagai “terkoneksi tetapi terasingâ€, terhubung secara digital, namun kehilangan arah nilai dan kehangatan spiritual. “Konektivitas tidak selalu berarti kedekatan makna. Banyak orang dapat berbicara lintas benua, tetapi gagal berdialog dengan hatinya sendiri,†katanya.
Di tengah banjir informasi itu, lanjut Tholabi, Al-Qur’an hadir sebagai pedoman nilai yang tak tergantikan. Ia mengutip firman Allah dalam surah Al-Isra’ ayat 9, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.†Menurutnya, ayat tersebut menegaskan bahwa wahyu bukan hanya teks, tetapi arah moral yang menuntun manusia di tengah disorientasi zaman.
\n\n\n\n“Al-Qur’an adalah panduan untuk berpikir, bukan sekadar untuk dibaca. Ia mengajarkan keteraturan di tengah kekacauan informasi,†tegasnya.
\n\n\n\nTholabi juga menekankan tiga prinsip qurani yang harus hidup di dunia digital, yakni: tabayyun (verifikasi informasi), qaul sadid (ucapan benar dan bijak), dan amanah digital (tanggung jawab moral di ruang maya). “Jejak digital kita adalah cermin integritas. Setiap klik adalah amanah,†ujarnya.
\n\n\n\nBaginya, tantangan terbesar generasi muda bukan menguasai teknologi, melainkan menguasai diri di tengah teknologi. “Menjadi qurani bukan berarti menolak modernitas, tetapi menundukkannya dengan nilai.
\n\n\n\nDi tangan generasi qurani, teknologi menjadi alat dakwah, bukan sumber kehancuran,†tuturnya.
\n\n\n\nIa menutup pesannya dengan ajakan reflektif, “Kembali ke Al-Qur’an bukan langkah mundur, tapi jalan terbaik untuk melangkah lebih jauh dengan arah yang benar.â€
\n\n\n\nPesan Tholabi menjadi pengingat bahwa dalam dunia yang penuh koneksi, iman dan nilai qurani tetap menjadi panduan abadi bagi manusia untuk menemukan arah hidupnya. (*).
\n