HARIANRAKYAT.ID-BOGOR-Spanduk “Selamat Datang di Wahana Jalan Penuh Lubang Penuh Genangan Air dan PJU Mati” membentang di Jalan Raya Jakarta Bogor, Desa Jampang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Dua spanduk membentang dengan jarak belasan meter ini sebagai bentuk protes keras warga, Selasa (27/1/2025).
Salah satu warga Pesona Batavia, Desa Jampang, Farida (48) mendukung suara warga soal kondisi jalan rusak. Menurutnya siapapun yang memasang spanduk itu sejak beberapa hari kebelakang ini turut mewakili kekesalan selama ini. Lebih dari pada sekadar kesal dan protes, tapi simbol kepedulian warga terhadap keselamatan jalan.
“Pesannya bentuk protes warga atau pengguna jalan supaya dibaca. Harapnya ada penanganan cepat. Kami-kami ini masyarakat kecil mau ngadu kemana. Semua pada jengkel, banyak yang sumpah serapah,” ucapnya meyakinkan.
Sambung ia, bila perlu seluruh warga turun kejalan lakukan aksi demo biar semua paham, bahwa pemerintah daerah tidak ada tindakan untuk melakukan langkah nyata. Minimal Pemda Bogor ada upaya komunikasi ke pemerintah pusat pemilik jalan.
“Kalau tidak ditangani cepat dan serius, tidak menutup kemungkinan bakal ada aksi demo disepanjang jalan ini,” tandas ia kesal.
Ia yang setiap hari pulang pergi kerja Bogor-Ciputat membandingkan, jalan aspal di ruas jalur Pamulang Ciputat kondisinya mulus meski sama-sama menggunakan aspal. Terlebih lagi wilayah masuk wilayah Kabupaten Bogor tak seterang Kota Tangsel dan Kota Depok, padahal ini sudah tahun 2026.
“Itu artinya, kualitas aspal di Kabupaten Bogor buruk. Bukan standar untuk jalan nasional. Itu standar jalan perumahan,” ujar pengusaha property itu mengejek.
Mesti tidak menutup mata, kerap ada penambalan, namun baru dua bulan akibat hujan, aspalnya sudah rusak kembali. Ia menduga ini adanya kecurangan.
“Ada indikasi banyak dikorupnya, jadi baru dua bulan aspal sudah rusak lagi,” terkekeh.
Jika dikalkulasi, kerugian masyarakat cukup besar. Banyak kendaraan rusak. Baik sepeda motor dan mobil. Lebih tragis lagi, nyawa hilang akibat terjatuh gara-gara jalan berlubang.
“Kalau kendaraan rusak bisa diganti, tapi kalau nyawa hilang siapa yang ganti. Semestinya pemerintah daerah dan pusat cepat tanggap jangan memble,” ujarnya kesal. (din).



