Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) melaksanakan Sosialisasi Komunitas Lingkungan dengan melibatkan 16 komunitas. Acara berlangsung di Hotel Soll Marina, Serpong Utara, Rabu (4/12/2024).
Turut hadir, perwakilan komunitas dan pemerhati lingkungan di kota Tangsel sebanyak 16 komunitas, masing-masing mengirimkan perwakilan 3-4 orang.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangsel Indri Sari Yuniandri menegaskan bahwa keberadaan komunitas sangat berperan penting untuk lingkungan. Menyelamatkan lingkungan menjadi kewajiban bagi semua dengan tidak berbuat kerusakan dimuka bumi.
“Tujuannya agar kita bersama-sama menjaga lingkungan. Tangsel salah satu kota yang mendekati metropolitan. Maka dalam menuju modern pasti akan ada permasalahan terkait dengan lingkungan yang mungkin menjadi sorotan di Indonesia. Salah satunya polusi udara,” ujarnya.
Kedua, dirinya menyampaikan masalah sampah, kendati soal sampah bukan hanya dialami Kota Tangsel tapi disetiap daerah. Memang segala sesuatu aktivitas manusia akan ada dampaknya pada lingkungan, tapi minimal dapat ditekan atau diminimalisir.

“Tentu pemerintah tidak akan sanggup menjaga lingkungan sendiri. Maka keberadaan bapak ibu menjadi kunci yang sangat penting untuk bersama- sama menjaga lingkungan mewarisi bumi hijau kepada anak cucu kita nanti,” pesannya.
Dirinya berharap semoga para peserta setelah mengikuti kegiatan ini menjadi motor penggerak di masyarakat dengan menjaga lingkungan melalui edukasi. Karena masih banyak masyarakat kurang tertarik dengan isu-isu lingkungan.
“Maka harus terus digaungkan untuk sama- sama beradaptasi pada perubahan iklim akibat aktivitas manusia beberapa puluh tahun silam. Tugas kita adalah harus menjaga agar perubahan iklim tidak terlalu ekstrim,” bebernya.
Perubahan iklam juga akan berdampak pada kondisi ketersediaan air bersih bawah tanah di Tangsel. Dalam kurun waktu 20 hingga 30 tahun kedepan, apakah kualitas airnya masih baik atau tidak. Ini yang perlu dijaga bersama-sama.
“Maka perlu dirawat dengan baik. Bahkan kedepan kawasan aglomerasi yang ada di Jabodetabekjur melakukan rancangan pembangunan lewat satu blue print,” imbuhnya.
Kepala Bidang Tata Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan Doni Herawan menyampaikan dalam rangka mendukung program nasional khususnya perubahan iklim dimana kondisi semakin memburuk apabila tidak ikut berpirah mulai saat ini.
“Dan itu semua sebagai komunitas tentunya sudah mengetahui kondisi dunia saat ini yang tidak baik-baik saja, bahkan dapat dirasakan diluar prediksi. Misalnya saja musim hujan dan kemarau tidak menentu. Itu semua akibat perubahan iklim. Maka kita hadir disini berdiskusi apa saja yang bisa dilakukan untuk lingkungan,” pesannya.
Hadir Kabid Pengendalian Pencemaran dan Pengawasan Lingkungan DLH Kota Tangsel Carsono selaku narasumber menjelaskan tentang Peran Penting Masyarakat Dalam Pengendalian Perubahan Iklim. Menurutnya perubahan iklim merujuk pada perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca bumi akibat aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil deforestasi. Sehingga berdampak terjadinya banjir dan perubahan cuaca yang tidak menentu.

“Maka perlu dilakukan berbagai upaya misalnya memilah sampah dari rumah dapat mengurangi berdampak perubahan iklim. Mengapa? Karena sampah menimbulkan gas metan, jika dikumpulkan menjadi satu dalam jumlah besar, akan lari ke ozon sehingga mengalami pengurangan,” ujarnya.
Upaya lain dengan memunculkan kesadaran berprilaku ramah lingkungan. Selain ketat pada disiplin mengurangi sampah sejak di lingkungan rumah. Juga kesadaran dalam penggunaan kendaraan dalam penggunaan BBM yang sesuai. Termasuk melakukan perawatan secara berkala. Dengan tujuan mengurangi polusi udara.
“Inilah pentingnya penggunaan BBM yang sesuai dengan jenis kendaraan supaya tidak menimbulkan polusi udara. Sebab masih ada mobil mewah menggunakan BBM yang bukan peruntukannya seperti jenis pertalite,” ujarnya.
Narasumber kedua, dari Kertabumi Recycling Center Santi menyampaikan penghasil sampah terbesar adalah rumah tangga. Konsep buanglah sampah pada tempatnya menurutnya sudah tidak relevan lagi. Maka cara mengurangi sampah adalah minim sampah dengan menggunakan kembali daur ulang.
“Bahwa 20-30 persen sampah terselamatkan oleh bank sampah. Maka perlu terus bergerak dan berkekanjutan adanya bank sampah yang sudah tersebar di semua wilayah di Tangsel,” ucapnya.
Selain itu, sampah dapat diolah menjadi berbagai macam produk. Hal itu yang dilakukan Kertabumi, dengan mendaur ulang yang dapat digunakan untuk taman, bangunan dan furniture.
Melalui acara ini diharapkan semua komunitas dapat berkiprah lebih optimal dengan menjaga lingkungan. Sampah juga bernilai ekonomis jika dikembangkan secara serius dan peluangnya cukup besar. Dengan demikian, nilai yang didapat bukan saja mampu memberikan sumbangsih kepada kelestarian bumi, juga mendapatkan perputaran ekonomi dengan mendaur ulang sampah. (adv).



